Showing posts with label poetry. Show all posts
Showing posts with label poetry. Show all posts

Friday, August 1, 2014

Poetry : Retroverso

Untuk memperkokoh eksistensi Genshiken ITB di dunia maya, Genshiken ITB merilis suatu akun ask.fm sebagai sarana bagi khalayak luas untuk bertanya seputar Genshiken ITB tepat lima hari yang lalu. Ekspansi ini sejauh ini terbilang positif - sejak blog ini tercuplik dalam salah satu jawaban di sana, traffic blog ini terhitung menanjak. Oleh karena itu, tak ada salahnya bagi kami untuk menyapa semua pembaca sekalian di manapun Anda berada - baik yang sudah lama mengikuti perkembangan blog ini ataupun yang baru bergabung, kami harap Anda semua terhibur dan tergerak dengan konten-konten kami!

Nama Lisa Santika Onggrid // requiem tentunya sudah menjadi nama yang tak asing dalam jagad kesusastraan Genshiken ITB. Merupakan sebuah kehormatan tersendiri bagi kami untuk memublikasikan suatu buah refleksi pikiran sang penulis, yang - tak layaknya karya-karya sang penulis sebelumnya - ditulis dalam bahasa Indonesia.

Berikut detail teknis mengenai puisi terkait :

  • Judul : Retroverso
  • Pengarang : Lisa Santika Onggrid // requiem

Retroverso - sebuah kata yang berasal dari bahasa Latin 'retrovertere' - pada hakikatnya adalah sebuah kata yang berarti 'terbalik secara tidak wajar'. Kata yang disinyalir berakar dari istilah anatomis dan linguistik ini menjadi sumber inspirasi yang diusung sang penulis dalam puisi kontemplatif semi-monolog ini.

Selamat membaca!

---------------------------- 

Percikan tinta merah di sela-sela buku
yang kautulis dengan terburu-buru
Lembar-lembar mimpi menyimpan rindu
ketika kau melihat keluar jendela dan terdampar di masa lalu

Berulang-ulang kau ajukan pertanyaan
yang terlintas di benak kala menyusun angan
Butuh waktu tak sebentar
sebelum akhirnya kau sadar

Ada cahaya baru yang kau kejar
di ujung jalan kilau keemasan
Akankah kau temukan jawaban
'tuk menelisik mimpi dan tujuan?

Terkadang semua nampak sama
Hamparan awan di langit, wajahmu pada purnama
Hanya cermin yang tahu sudah berapa lama
Juga
Percikan tinta merah di sela-sela buku
yang kautulis dengan terburu-buru
Terkubur dalam aliran waktu

Sunday, July 6, 2014

Poetry : [T]races

Juli sejauh ini telah menjadi bulan yang relatif sibuk bagi massa Genshiken ITB, terlebih dengan semakin mendekatnya OHU 2014 dan simulasi OSKM 2014 - meskipun demikian, jangan khawatir! Kami tetap siap menyajikan konten-konten baru nan inspiratif yang akan menggugah pikiran Anda, yang selama ini tersimpan rapi dalam berkas literatur kami.

[T]races - sebuah puisi karya Lisa Santika Onggrid // requiem - adalah karya penuh pemikiran pilihan kami pada kesempatan ini. Awalnya karya ini dimaksudkan sebagai konten untuk 'kelahiran kembali' GenMagz - Genshiken ITB Magazine - yang kini berstatus mati suri walau sempat berjaya di dunia maya kala itu (ref : Mysterious Affair At Styles), namun setelah berbicara dengan sang kreator puisi (yang notabene juga adalah pemimpin redaksi GenMagz saat ini) tercapailah kesepakatan agar puisi ini turut terpublikasi luas di blog ini.

...dan seperti biasa, kami turut melampirkan detail teknis mengenai karya terkait dalam post utama :

  • Judul : [T]races
  • Pengarang : Lisa Santika Onggrid // requiem

Yah, begitulah. Banyak kejutan yang siap untuk ditampilkan pada GenMagz nanti, yang telah kami atur apik sedemikian rupa secara internal. Dan satu hal terakhir, last but not least - GenMagz kala ini masih menerima entri-entri karya, baik itu ilustrasi, review karya, ataupun lainnya! Bagi massa Genshiken ITB yang merasa tertantang, entri dapat dikirimkan ke alamat e-mail genshikengenmagz@gmail.com.

UPDATE (4/08) : Kami baru saja mendapat informasi bahwa puisi ini merupakan sepucuk bagian dari proyek antologi puisi pribadi berjudul serupa ([T]races).

Selamat membaca!

----------------------------

Footsteps on the sand
faded against time

Eternity, your fingers gliding to engrave
Down to the dot in quaint letterings, that young face forlorn
'Cause I'm too big for castles,' you said in voice only too solemn
'Built a snow fort in winter--watched it melted.'

A twinkle in the sky has the path we walked on the shore of yore

'Built a snow fort in winter--watched it melted.'
Cacophony was the crashing waves in the air where raindrops
Dripping down the frosted glasspanes where you trace mirages of days past
Echoes of laughter filling in the silence

Footsteps on the sand
faded against time

Sunday, June 1, 2014

Poetry : HYPE

Tak terasa, semilir angin khas bulan Juni telah menyua kita semua. Menjelang berakhirnya paruh pertama tahun 2014 ini, saatnya kami memayungi karya-karya baru dalam gemerlap cahaya!

Puisi di bawah ini lahir dari sesuatu yang sudah sangat tidak asing di kalangan anggota-anggota Genshiken ITB - randomness. Ya, sang kreator - Karina R. // Riesling - mendapat ilham akan penciptaan puisi ini dari hasil mencoret-coret secarik kertas tanpa tujuan dalam kendaraan travel yang ditumpanginya tempo hari. Bukti konkrit bahwa inspirasi bisa hinggap di mana dan kapan saja!

HYPE - itulah judul puisi hasil curahan imajinasi Riesling kali ini. Sebuah kata empat huruf, yang didefisikan oleh Concise Oxford English Dictionary (11th Edition) sebagai 'extravagant or intensive publicity or promotion'. Atau 'a deception or hoax', sebuah definisi alternatif yang tak secerah makna utamanya. Kami di sini tak mendalami etimologi kata, namun menarik menelisik fakta bahwa suatu kata dapat berarti jamak yang saling kontras satu sama lain.

Belakangan diketahui bahwa Riesling sendiri berencana menggubah lagu bersama dengan B. Akhfiya berdasarkan puisi di bawah ini. Ya - sebuah alunan melodi. Time to get hyped! ...anyway, berikut adalah detail teknis terkait puisi yang akan kami persembahkan:

  • Judul : HYPE
  • Pengarang : Karina R. // Riesling

As always - selamat membaca, dan selamat larut dalam alunan kata-kata indah berikut!

----------------------------

Hype is what I feel when I think of you
Heartbeat ran faster
Breathing became shorter
And joy from who-knows-where overflowed my chest

I should tell you about this complication
but fear wins over my determination
What if I chase you away with this emotion?
Will there ever be an answer for that one question?

Dear God, I can hear his voice everywhere
But never once it said the words I long to hear
Oh Lord, it hurts, my voice will never reach him there
But I can't get rid of this hype whenever he is near

Hype is what I feel when I think of you
Adrenaline rushes
I'd begin to feel restless
It kind of hurt a little wishing you were here

Dear God, I can hear his voice everywhere
But never once it said the words I long to hear
Oh Lord, it hurts, my voice will never reach him there
But I can't get rid of this hype whenever he is near

And I can't get rid of this hype even though you're far away
'Cause near or far, you're in my heart anyway

Sunday, April 6, 2014

Poetry : Memoar Seorang P...


Halo semuanya!

Berikut ini adalah sebuah puisi kilat yang hasil rekayasa anggota-anggota Genshiken Story pada event meet-up #8 Jum'at lalu. Konsep puisi kilat ini mirip dengan konsep Eulerian Chronicles terdahulu yang sempat kami singgung di post ini - satu orang hanya diberi kesempatan sekitar 45 detik untuk melanjutkan tulisan orang di sebelahnya. Namun, kali ini kita berfokus pada puisi - tak seperti Eulerian Chronicles terdahulu yang berfokus pada cerita.

Hasil buah pikiran delapan orang ini menghasilkan total delapan cerita, yang salah satunya adalah:


  • Title : Memoar Seorang Penambang
  • Event : Genshiken Story Meet-Up #8

'Puisi' ini merupakan bagian dari antologi puisi Memoar Seorang Penambang (dan 7 Puisi Lainnya), yang dibuat dengan mengekspresikan apa yang terpikir secara kilat. Dengan mengesampingkan akal sehat sesekali, secara garis besar para anggota yang menulis tulisan ini cukup puas dengan hasil akhirnya - ada kemungkinan antologi puisi ini akan dirilis secara eksklusif di GenCarnival mendatang!

...untuk saat ini, kami harap Anda menikmati puisi yandere di bawah ini!

----------------------------

Kuhitung intan di tambang itu
Tak mampu menandingi indah senyummu
Kudatangi rumahmu dengan sekop dan palu
Biar senyummu hanya untukku

Satu langkah, dua langkah
Senyum mengembang biar hanya secercah
Tiga langkah, empat langkah
Tak kutemukan secercah

Pecah dan pecah
Belingan kaca berdarah-darah
Tak terasa hidup penuh amarah
Walaupun kutinggalkan rumah bedebah

Satu kata penuh gairah
Memecah sepi di langit merah
Semua menjadi sampah
Orang berubah jadi serakah

Keinginan hanya akar tak berbatang
Memimpikan sinar mentari yang takkan datang
Kamu kamu, dimana sayang?
Karena tanpamu aku hilang

Dirimu tergeletak sendiri jua
Kemarilah, agar kita selalu bersama selamanya
the end.

Monday, March 3, 2014

Poetry : Lullaby


Selamat malam semuanya! ...yap, puisi kali ini merupakan puisi ketiga dan terakhir (sekaligus yang paling panjang) dari trilogi puisi Lisa. Namun, sebelumnya kami akan memberikan sedikit intermezzo terlebih dahulu!

Gambar di atas merupakan gambar karya Rakaputra P. // Rheine yang diunggah ke grup Facebook internal kami (Genshiken Story). Sang kreator gambar menjelaskan gambar ini sebagai 'sebuah gambar yang penuh dengan nilai-nilai filosofis' - dan ya, setiap ilustrasi yang terlihat dalam gambar di atas merepresentasikan sesuatu dari Genshiken Story. Anda mungkin akan dapat mengidentifikasi Stomach Book dengan segera, namun apakah gerangan arti dari delapan ilustrasi lainnya? Kami serahkan sepenuhnya kepada Anda untuk mencari jawabannya (:

...oh, dan yap - salah satu ilustrasi di atas adalah representasi dari puisi sebelumnya, Ashes. Terlepas dari gambar di atas, detail teknis dari puisi yang kami angkat kali ini adalah sebagai berikut:

  • Judul : Lullaby
  • Event : Genshiken Meet-Up #5
  • Pengarang : Lisa Santika Onggrid // requiem 

Puisi ini sedikit banyak memiliki atmosfer yang sama dengan puisi terdahulu (Ashes), sehingga kami menyarankan Anda untuk membaca Ashes terlebih dahulu.

Selamat membaca!

----------------------------



Lullaby

Under the city made of stardust and ashes we sleep
Rocking in Earth's cradle, Vulcan is our watcher
Here, stories told in cycle,time a mere number
Echoing empty halls and pillars were promises we failed to keep

I saw darkness, the city in eternal slumber
We didn't run then,
from Pompeii, where we now lay

No one remembered in the face of doom
How the women smiled and the way the men cheered
Just the other day walking down the streets with a hum
In the merry day of Vulkanalia memories whirred

The temple of Isis, the bustling Macellum
Drowning with crowds leaving no room
Jars of preserved fruits tumbling down the shelves
One or two tremors weren't cause of stress

Walls fallen and rebuilt, fallen and rebuilt
Yet we didn't run then,
from Pompeii, where we now lay

Atop the hill, where the flowers bloomed
We sang and danced and now buried
There used to be windswept trees
Standing still, what remained was the breeze

Standing in the rain of dust, I recalled the day long past
The witch of Vesuvius, my mother said
Looked upon children of unkindly heart
Was she there, that fateful night?

Under the city made of stardust and ashes we sleep
Forgotten and barren
Yet we didn't run then,
from Pompeii, where we now lay

Thursday, February 27, 2014

Poetry : Ashes

Halo! ...yap, post ini akan mengangkat bagian kedua dari trilogi puisi retrospektif Lisa (:

Sebelumnya, kami akan menyela terlebih dahulu dengan satu berita penting : Ingatkah Anda dengan Freak-Quency, visual novel karya Dewi Nur Fitri // Xerofit51 yang notabene merupakan salah satu anggota kami? Visual novel bertemakan realita virtual itu telah di-review oleh combini.co, situs portal berita budaya visual modern! Kami sangat berterima kasih kepada combini.co tentunya atas kepeduliannya mengenai karya-karya visual modern kreasi dalam negeri, dan tentunya kami sangat berharap tren positif ini terus berlanjut.

...kembali ke topik utama, berikut adalah detail teknis mengenai puisi yang kami angkat kali ini:

  • Judul : Ashes
  • Event : Genshiken Meet-Up #5
  • Pengarang : Lisa Santika Onggrid // requiem 

Akhir kata, selamat membaca!

----------------------------


Ashes

Death is overrated, you once heard them said, as the blood wouldn't wash away
I saw doubt in your eyes at the crosses we made today
Song you sung for their last lullaby gone with the wind
Against the odds, we kept struggling, pretending to be blind
Perhaps it also a punishment because we lived
Prayer is for the weak, you always told me, yet for once you believed
End this quick, I couldn't help but followed
As we mourned the battle commenced
Ringing of a bell, my time growing near
Another one fell, no scream to hear
Now, at last, I knew the reason I called for arms
Cry no more, the blood was never mine
Empty sky stained of gray, I saw the ashes of the day

Monday, February 24, 2014

Poetry : Re:Member

Halo! Kami kembali menyapa Anda dengan sesuatu yang belum pernah kami persembahkan sebelumnya - sebuah puisi!

Ya, puisi di bawah ini adalah puisi karangan salah satu anggota kami, Lisa Santika Onggrid // requiem yang dipersembahkan khusus untuk Meet-Up #5 terdahulu. Karena satu dan lain hal, penulis pribadi (Nivalyx) tidak dapat melaporkan bagaimana jalannya Meet-Up #5 karena berhalangan hadir, namun penulis telah diamanatkan untuk mempublikasikan salah satu puisi karya talenta kami ini.

Sebagai tambahan, sesungguhnya puisi mengenai kembalinya seseorang ini adalah satu dari tiga puisi yang dipersembahkan Lisa kala itu. Siapakah sang tokoh utama, sehingga ia begitu tercengang melihat perubahan yang drastis di sekitarnya - seorang pengembara, ataukah seorang yang baru pulih dari amnesia? Kami biarkan imajinasi Anda bertualang liar dengan puisi retrospektif ini.

Selamat membaca!

  • Judul : Re:Member
  • Event : Genshiken Meet-Up #5
  • Pengarang : Lisa Santika Onggrid // requiem

----------------------------


Re:Member

Grafitti to my left, rose bushes to my right
Even until the day lost the last light
I keep looking from row to row
For a pine tree with postbox hung low

How do I tell the elderly couple
that on their lawn I see another house with different people?
Husky in place of the dalmatian
in that garden with arched doorway and white picket fence
I used to climb when I was ten

That time we played remember when
Under the clouds of neighborhood field
This isn't like anything from back then
Brick and mortar till nothing left to build

How do I reply to 'welcome back's
that my mind now a patchwork of familiar strangers
Like worn leather shoes, nice and comfortable,
but wrong in all places

That candy shop just right on the next block
no longer,
but twists and turns in a maze I try to solve
it's no use, remember

It's taunting, the shadow
But when I look up even the colors don't match
those images I'm trying to catch

How do I return to home long gone?