Showing posts with label genshiken writing challenge. Show all posts
Showing posts with label genshiken writing challenge. Show all posts

Friday, December 26, 2014

GWC : Zielverhuiser


Apakah poster di atas terkesan familiar bagi Anda? Ya, poster yang telah ramai bersirkulasi di media sosial Facebook selama beberapa hari belakangan merupakan poster dari Freak-Quency, sebuah game Visual Novel yang berkisah mengenai misteri seputar dunia permainan virtual. Seusai versi penuhnya dirilis beberapa waktu yang lalu, game besutan Dewi Nur Fitri // Xerofit51 ini telah ramai dibicarakan dalam beragam komunitas, baik lokal ataupun internasional.

Meskipun demikian, banyak yang belum mengetahui bahwa game ini sejatinya adalah proyek lintas anggota Genshiken ITB. Pembaca yang jeli mungkin masih mengingat artikel mengenai Freak-Quency yang kami lansir beberapa bulan yang lalu, dan percayalah - sejak saat itu, banyak aspek yang telah berkembang pesat. Nama-nama seperti Sakon // sakon04 (yang notabene kini telah resmi bergabung dalam panji Genshiken ITB), Zakaria S. Laksmana // Nivalyx, dan Bima Saddha Prabawa // ntLKM pun turut andil dalam pengembangan game ini dengan kontribusinya masing-masing.

Fenomena Freak-Quency mungkin sedang mewabah, namun terlepas dari itu untuk saat ini kami ingin membawakan suatu konten lain yang menyegarkan ke permukaan. Yap - mengiringi musim liburan kali ini, kami mempersembahkan kepada Anda sebuah kisah pemecah rekor internal yang telah kami singgung sebelumnya - Zielverhuiser. Berikut detail teknis mengenai karya terkait :

  • Judul : Zielverhuiser
  • Pengarang : Ted Kesgar // tkesgar
  • Event : Genshiken Writing Challenge - UJIAN

Sebelum kami mengakhiri post pamungkas di tahun 2014 ini, kami juga ingin mengumumkan bahwa tertanggal 15 Desember 2014 kemarin Hamzah Yondita // Yon sudah efektif menjadi admin kedua blog ini! Konten dari Yon akan kami hadirkan sesegera mungkin. Sampai saat itu tiba, selamat berlibur, dan tetaplah produktif berkarya!

PS : Further insights about the new version of Freak-Quency (including download link) is accessible here

----------------------------

Selasa, 28 Oktober, 0530
Rengasdengklok, Karawang, Jawa Barat
Prajurit Satu Anisha Farakina
Batalion Infanteri 42

Aku duduk di sebuah bukit kecil di belakang kamp latihan, merasakan hangatnya mentari yang baru terbit sebagian. Hampir semua orang masih berada di tenda masing-masing, merapikan perlengkapan masing-masing, takut jika tiba-tiba sore nanti ada sidak. Aku sudah bangun sejak jam empat pagi dan sudah selesai membereskan perlengkapanku menjelang Shubuh; aku masih gugup karena hari ini adalah hari yang penting. Setelah apel pagi, kami akan mengadakan latihan perang khusus di pusat kota Bekasi. Hasil dari latihan perang itu akan menentukan siapakah beberapa orang dari kami yang akan diambil menjadi anggota Resimen Operasi Khusus.

Menjadi anggota ROK adalah tujuan utamaku menjadi tentara. Alasanku bukan untuk mengejar pangkat, bukan pula karena rasa patriotisme membela Tanah Air, namun karena aku ingin berada dekat dengan Aram. Dari kabar terakhir yang kuperoleh di mensa, saat ini ROK berada di Cikarang, sekitar lima belas kilometer dari Rengasdengklok.

Suasana pagi ini mengingatkanku pada satu pagi lima tahun lalu. Pagi di mana Dumai dibombardir. Pagi di mana ayah dan ibu tewas terkena bom. Pagi di mana seorang teman yang sudah kuanggap sebagai kakak, Aram, menyelamatkanku. Aram beserta beberapa teman yang lain -- Hariadi, Jaring, dan Bayan -- terlarut dalam semangat patriotisme dan langsung mendaftar menjadi tentara, meskipun saat itu mereka masih berumur enam belas tahun.

Aku menjadi tentara saat kondisi Indonesia sedang sulit-sulitnya. Dua tahun yang lalu, aku ingat saat itu TNI memerintahkan semua orang di usia lima belas sampai empat puluh tahun untuk datang ke kamp pelatihan menjadi tentara. Saat itu, hanya pulau Jawa yang masih dikuasai Indonesia. Kondisinya sudah lebih baik sekarang -- kami sudah merebut kembali pulau Kalimantan dan Sulawesi, namun musuh masih menguasai pulau Sumatera, Banten, dan pusat kota Jakarta.

Ketika aku mendengar Aram menjadi anggota ROK, aku meniatkan diri untuk menjadi anggota ROK. Setelah pertempuran besar di Bandung -- tiga puluh ribu kami melawan delapan puluh ribu tentara musuh, atasanku merekomendasikanku menjadi anggota ROK. Anggota ROK hanya dipilih lewat seleksi tertutup berdasarkan rekomendasi staf senior. Tampaknya apa yang kulakukan di Bandung -- menembak empat puluh tiga musuh dan merusak sebuah tank kecil -- cukup membuat staf senior terkesan.

Aku ingin bertemu kembali dengan Aram, orang yang aku suka sejak kecil. Sekarang peluangku ada di depan mata, dan aku tidak ingin melewatkannya.

                                   * * *

Pukul tujuh tiga puluh, apel pagi telah selesai dilaksanakan. Kami sedang melakukan cek perlengkapan dan persenjataan di ruang senjata. Meskipun hari ini hanya latihan perang, kami diperintahkan untuk mempersiapkan perlengkapan penuh, karena hari ini merupakan latihan perang terakhir sekaligus ujian seleksi ROK.

"Perlengkapanmu sudah semua?"

Eri adalah satu-satunya tentara wanita di seleksi ROK selain aku. Dia berasal dari Pekanbaru, ibukota Riau yang jaraknya tiga jam perjalanan dari Dumai lewat jalan tol. Orangnya ramah, teliti, dan terkesan lugu -- aku masih penasaran bagaimana dia memperoleh rekomendasi.

"Ya, sudah," jawabku.

"Kenapa kamu tidak menggunakan senapan serbu -- oh ya, aku lupa kalau kamu itu Ziver. Memang perlengkapan Ziver begitu berat ya?" tanya Eri?

"Ya, hampir sepuluh kilo. Ditambah perlengkapan medis standar, aku tidak bisa bergerak jika harus membawa senapan serbu," jawabku.

Ziver adalah singkatan dari Zielverhuizer, istilah bahasa Belanda yang artinya 'pemindah jiwa'. Ziver merupakan sebuah alat baru yang mulai digunakan oleh tentara Indonesia baru-baru ini. Ziver memungkinkan jiwa manusia untuk diselamatkan dalam kondisi gawat darurat di tengah medan pertempuran. Caranya adalah dengan memindahkan jiwanya ke dalam kontainer 'fles' yang mirip sebuah botol suplai air kecil, namun terbuat dari baja dan jauh lebih berat. Nantinya, jiwa tersebut dapat dipindahkan ke semi-klon dari tubuh asli tentara tersebut -- sebuah android yang mirip dengan tubuh aslinya. Terdengar mengerikan, namun TNI hanya berusaha menyelamatkan tentara yang hampir mati. Sejak pertama kali diperkenalkan beberapa tahun yang lalu, Ziver telah menyelamatkan ratusan nyawa tentara, namun memang ada tentara yang marah, yang lebih ingin mati di medan perang alih-alih menjadi semi-klon. Alat Ziver sendiri terdiri dari dua buah pelat dengan sebuah generator besar, mirip dengan defibriliator.

"Isha, jika nanti aku hampir mati, tolong sisakan sebuah fles untukku, ya," kata Eri.

"Insya Allah," aku tidak berani langsung berkata iya terhadap permintaan tersebut. "Ketika masuk ROK nanti aku akan menyiapkan fles khusus dengan namamu."

"Yah, meskipun nanti juga belum tentu terpakai," Eri menepuk kepalaku. Dia begitu tinggi untuk seorang wanita -- tinggiku 168 cm, namun aku hanya sedagunya.

PRIIIT!

"Semuanya berangkat!"

Peluit tanda waktunya berangkat dibunyikan. Kami berangkat keluar dari ruang senjata menuju kendaraan masing-masing.

                                   * * *

Selasa, 28 Oktober, 1530
Cikarang, Bekasi, Jawa Barat
Letnan Satu Ramadan Arietta
Resimen Operasi Khusus 4

"Pindai ke arah barat laut."

Bayan menembakkan sebuah drone ke angkasa. Dilengkapi dengan kamera, sebuah drone dapat melihat kondisi suatu medan hingga radius empat kilometer.

"Satu kilometer ke arah utara. 42 sekitar tujuh orang, musuh cukup banyak, ada kendaraan tempur."

"Baik. Semuanya, bergerak menuju zona pertempuran, hindari kontak dengan musuh, Raka ikut denganku. Bayan, Madina, pergi ke titik ini dan siaga di dalam mobil," aku menunjuk satu gedung di peta interaktif. Gedung tersebut relatif jauh dari zona pertempuran.

"Dimengerti."

Aku dan Raka berpasangan menuju zona pertempuran yang ditunjukkan.

Pukul sebelas tadi pagi, Batalion Infanteri 42 diserang secara diam-diam oleh musuh saat mengadakan latihan perang. Sebagian besar dari mereka sudah dievakuasi, namun terdapat satu peleton yang menjadi penjaga belakang ketika evakuasi. Atasan memerintahkan dua skuad ROK-4 -- salah satunya skuadku -- untuk menjemput peleton penjaga belakang. Dari kondisi mereka sepertinya tidak terlalu bagus; satu peleton berisi sekitar dua puluh orang telah berkurang hingga menjadi tujuh orang. Rencanaku adalah menjemput mereka -- sisa mereka -- dan lari menuju Bayan-Madina yang sudah siaga dengan mobil.

Aku tak habis pikir mengapa mereka mengadakan latihan perang hanya beberapa kilometer dari garis depan.

                                   * * *

Aku dan Raka tiba di zona pertempuran, sebuah rumah susun empat lantai yang cukup besar. Kami memasuki rumah tersebut dari arah selatan, menghindari musuh yang mengepung dari arah barat dan utara. Suara tembakan berdesingan memenuhi telingaku.

"Teman dari selatan! Teman dari selatan!" teriakku, memberi tahu Tentara 42 bahwa terdapat unit ROK di daerah mereka. Seorang dari 42 menghampiriku.

"Kamu komandannya?" tanyaku.

"Ya, saya Serma Amir. Kapten sudah tewas," jawabnya.

"Berapa orang yang tersisa?"

"Tujuh, dengan satu orang medis Ziver."

"Baik. Raka, siapkan satu drone tembak di lantai dua menghadap barat, aku akan siapkan satu di lantai tiga menghadap utara. Amir, bawa semua orang ke bawah, kita akan evakuasi," aku memberi perintah kepada Raka dan Amir.

"Dimengerti."

Aku menaiki tangga menuju lantai tiga, saat kemudian aku melihat sosok yang kukenal: Isha. Isha memegang tangan dari seorang tentara perempuan yang terbaring di lantai. Tentara perempuan itu bersimbah darah, dari mulut dan tenggorokannya keluar darah membanjir.

"...sha..." tentara perempuan itu berusaha berbicara sesuatu.

"Eri..." gumam Isha, sembari menyiapkan mesin Ziver untuk melakukan pemindahan jiwa. "Tunggu sebentar, kamu akan baik-baik saja..."

Aku tiba tepat waktu untuk menyaksikan pertama kalinya aku melihat bagaimana jiwa dipindahkan ke dalam fles. Di tangan Isha terdapat dua buah pelat semacam pelat defibriliator. Pelat di tangan kiri diarahkan ke sebuah fles, sedangkan pelat di tangan kanan diarahkan ke dada tentara perempuan itu.

"Lima, empat," Isha menghitung mundur, "tiga, dua, satu."

Kemudian tubuh tentara perempuan tersebut tersentak ke atas, persis seperti disetrum. Fles yang dipegang Isha berubah menjadi berpendar kehijauan.

Setelah ritual pemindahan jiwa selesai, aku menghampiri Isha. "Isha?"

"Aram!" sahut Isha melihatku.

"Kenapa kamu menjadi tentara? Dan... itu tadi pemindahan jiwa?" tanyaku.

"Ya," jawabnya singkat.

"Ada banyak pertanyaan yang harus kamu jawab nanti, Isha," kataku.

Sebuah pesan dari jarkom memotong reuni singkatku dengan Isha.

"Aram, tank musuh dari arah utara sedang menuju kalian, tiga menit."

Sial.

"Dimengerti. Tim ROK, amankan jalur dari selatan zona ke mobil, kami akan evakuasi," jawabku lewat jarkom.

"Isha, kamu, langsung ke bawah! Kita akan evakuasi!" kataku kepada Isha.

"Dimengerti!"

Aku berusaha memasang drone tembak secepat mungkin. Drone tembak tidak terlalu akurat untuk menghabisi musuh, namun cukup akurat untuk memberikan tembakan perlindungan selagi kami melakaukan evakuasi. Setelah selesai, drone tembak pun aktif dan langsung menembaki musuh. Beberapa musuh terkena tembakan langsung, sedangkan mereka yang hendak menyeberang masuk langsung mundur.

"Aram, jalur aman. Segera lakukan evakuasi," pesan dari jarkom.

Aku langsung turun ke bawah, dan memberikan perintah untuk evakuasi kepada semuanya.

"Semuanya, evakuasi! Ikuti Raka menuju mobil!" aku memerintahkan evakuasi sambil menunjuk Raka.

Satu per satu tentara keluar melewati pintu belakang di sebelah selatan. Satu, dua, tiga -- tunggu, mana Isha?

"Mana Isha?" tanyaku pada Amir, tentara paling belakang.

"Dia masih di atas, membereskan Ziver," jawabnya.

"Di mana?"

"Lantai dua!"

Aku bergegas ke lantai dua. Di sana, aku melihat Isha bersama banyak fles. Banyak sekali.

"Hati-hati, jangan sampai jatuh!"

Aku menghampiri Isha. "Semua fles ini... berisi?" tanyaku kepadanya.

"Ya. Empat puluh delapan orang, empat puluh delapan fles. Batalion 42 punya empat Ziver, tapi mereka semua sudah gugur."

Empat puluh delapan orang, empat puluh delapan jiwa, empat puluh delapan fles. Dan Isha mengumpulkan serta membawa semuanya, termasuk dari Ziver-Ziver lain.

Aku merasa sedikit pusing.

"Aram," Isha memanggilku, "bantu kami menyelamatkan teman kami."

Tanpa bicara satu patah katapun, aku mengumpulkan fles-fles yang berserakan di lantai dan memasukkannya ke dalam ransel. Sebuah fles berukuran cukup kecil, seukuran genggaman tangan, namun sangat berat -- aku membawa sekitar dua puluh fles dengan susah payah, terlebih lagi aku masih membawa perlengkapan tentara. Isha membuang berbagai perlengkapan medis di ranselnya sebelum memasukkan fles-fles ke dalamnya.

Setelah semua fles masuk, Isha berdiri, sempat kehuyungan karena berat, sebelum menginjakkan kakinya ke lantai. Matanya melihat ke arahku, sebelum melihat sekitarnya, dan berhenti ketika melihat ke belakangku. Isha langsung berteriak.

"Tank!"

Aku menoleh ke arah yang ditunjuk Isha, melewati lubang besar yang terbuka di dinding rumah, mungkin bekas granat.

Sebuah tank. Meriamnya mengarah ke lantai dua rumah kos, tepat ke tempat kami berada. Aku dapat merasakannya -- meriam tersebut tepat membidik kami.

"Awas!"

Tiba-tiba, semua terasa lambat. Seberkas cahaya dari meriam tank tersebut, diikuti ledakan besar di atasku, dan dentuman bunyi besar.

                                   * * *

Selasa, 28 Oktober, 1605
Kota Bekasi, Bekasi, Jawa Barat
Prajurit Satu Anisha Farakina
Batalion Infanteri 42

Aku punya sebuah kebiasaan baik yang menyebabkanku akan mati beberapa saat lagi: aku tidak bisa melihat orang lain sakit atau terluka. Aku ingin menyelamatkan orang lain.

Pernah suatu ketika Hariadi jatuh dari sepeda, entah kenapa aku yang panik menangis, lalu lari ke rumah mengambil kotak P3K. Padahal Hariadi tidak terluka sama sekali. Kebiasaan ini menyebabkan aku menjadi tentara medis -- di sebuah pertempuran, alih-alih menembaki musuh aku justru memikul tentara-tentara yang terluka dan beberapa tentara yang sudah gugur menuju zona penyelamatan. Hari ini, entah berapa kali aku melakukan pemindahan jiwa, termasuk menggunakan fles dari Ziver lain yang telah gugur.

Ketika aku melihat sebuah tank dengan meriam yang sudah dibidikkan ke arahku dan Aram, kebiasaanku mengambil alih pikiranku. Aku langsung melompat mendorong Aram ke arah tangga -- tempat yang paling aman jika sebuah lantai runtuh, berusaha melindungi Aram. Dan benar saja, tank tersebut langsung menembakkan meriamnya menghantam langit-langit ruangan, sehingga lantai dua langsung roboh.

Roboh menimpaku.

Seluruh badanku dari kaki hingga dada tertimpa reruntuhan. Kakiku mati rasa. Sepertinya suatu besi tajam mengoyak pinggangku dari belakang. Darah mengalir.

Sakit.

Sakit.

Sakit.

Aku mulai kehilangan kesadaran.

"...Isha? Isha? Isha!" Aram menghampiriku. Dia selamat.

Betul juga, aku Ziver.

"...Ziver..." aku kesulitan dalam bernafas, dan tidak bisa berbicara dengan lancar.

"Aku ambil!" Aram pergi. Tak lama kemudian, Aram kembali dengan membawa mesin Ziver.

"Jarkom... tank hancur... drone bom... maaf..." aku tidak bisa mendengar kata-kata Aram dengan jelas. Mungkin sebuah drone baru saja menghancurkan tank yang baru saja membunuhku? Terlambat sedikit saja.

"Fles? Isha... fles kosong... di mana?" Aram bertanya kepadaku.

"...di ransel... ku."

Betul juga, aku menyimpan fles kosong di ranselku bersama beberapa puluh fles lain, yang kini tertimpa reruntuhan.

Air mataku mulai mengalir. Aku tahu aku akan mati tanpa bisa dipindahkan.

Aram terduduk di depanku, tangannya memegang pelat Ziver. Pandangannya kosong.

"Aram..." aku berusaha berbicara.

"Isha... bicara..."

Aram melarangku berbicara? Aku tidak bisa mendengarnya. Aku ingin meminta maaf kepadamu karena menjadi tentara. Aku juga ingin menyatakan suka kepadamu menjelang aku mati.

"Maaf... aku... tentara... suka..."

Kata-kataku semakin kacau. Sial.

Aram berhenti berbicara. Kemudian, tiba-tiba Aram memasang pelat di keningku. Aku tidak bisa melihat fles yang digunakan Aram. Dari mana Aram mendapatkan fles baru? Bagaimana jiwa bisa dibuang dari fles yang sudah berisi? Yang aku tahu, fles tidak bisa dipakai dua kali.

"Lima..."

Apakah Aram memaksa menggunakan fles yang sudah berisi jiwa? Jangan! Jangan menggunakan fles yang sudah berisi! Jiwaku akan tercampur dan rusak, sesuatu yang lebih mengerikan daripada mati!

"Empat..."

"Jangan..." tanganku berusaha mencengkeram tangannya yang memegang pelat, namun tanganku sudah terlalu lemah.

"Tiga..."

Aram, tolong jangan.

"Satu..."

Untuk sesaat aku merasa kepalaku seperti ditekan begitu kuat, seperti hendak diremukkan.

Kemudian semuanya menjadi gelap.

                                   * * *

Kamis, 28 Oktober, 0530
Monumen Nasional, Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta
Kapten Ramadan Arietta
Resimen Operasi Khusus 4

Satu tahun telah berlalu sejak pertempuran di Bekasi.

Sejarah akan mencatat pertempuran di Bekasi sebagai salah satu pertempuran ganas di mana puluhan tentara gugur akibat serangan diam-diam oleh pihak musuh. Beruntung, Batalion 42 saat itu sedang melakukan latihan perang terakhir untuk seleksi ROK, sehingga mereka memiliki persiapan tempur dan menghindari korban yang lebih besar. Dari 280 orang, terdapat total empat puluh sembilan korban, dengan dua puluh di antaranya dapat diselamatkan sebagai semi-klon.

Aku akan mengingat pertempuran di Bekasi sebagai pertempuran kecil yang mengubahku secara keseluruhan. Pada pertempuran itu, aku bertemu dengan Isha selama beberapa menit, hanya untuk melihatnya gugur beberapa waktu kemudian. Aku tidak akan bisa melupakan pemandangan saat itu -- Isha, terkubur hingga kepala dan tangan, dengan darah merembes keluar.

Sial, jika saja drone bom datang beberapa detik lebih awal, Isha tidak akan mati... dan aku tidak perlu melakukan pemindahan jiwa.

Waktu itu, aku memiliki dua puluh fles yang semuanya penuh berisi jiwa yang sudah Isha selamatkan. Tidak ada fles kosong; semua fles kosong ada di ransel Isha yang terkubur bersamanya. Isha akan membunuhku jika tahu aku membuang jiwa yang sudah diselamatkannya, jika memang fles bisa dibuang isinya -- dan ternyata memang tidak. Aku tidak punya tempat untuk melakukan pemindahan jiwa, kecuali satu: tubuhku sendiri.

Aku suka Isha.

Aku melarang Isha berperang agar dia selamat melewati masa-masa perang, untuk kemudian aku jemput setelah perang berakhir.

Pilihan paling rasional sesuai akalku saat itu adalah memindahkan jiwa ke tubuhku sendiri. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi; mungkin jiwaku akan hilang. Setidaknya Isha akan selamat. Aku tidak ingin Isha mati.

Namun hal yang terjadi tidak sesederhana itu.

Apa yang terjadi jika jiwa dipindahkan ke tubuh yang sudah berisi jiwa adalah terjadi fusi. Pikiran Isha menyatu dengan pikiranku. Aku menjadi tahu isi pikiran Isha.

Isha suka aku.

Sial, jika saja pertempuran di Bekasi tidak pernah terjadi...

                                   * * *

Sejak Kemerdekaan Kembali Indonesia tanggal 1 Juni, aku menerima banyak permintaan wawancara dari jurnalis sebagai salah satu pimpinan dari ROK. Hari ini, seorang jurnalis dari kantor berita lokal hendak mewawancaraku. Aku diminta menunggu di Monas pukul 10 pagi, namun aku sudah tiba di sini sejak pukul lima tiga puluh.

Pukul sepuluh lewat tiga puluh, jurnalis tersebut datang. Dasar kebiasaan masyarakat Indonesia, tidak menghargai waktu.

"Maaf, saya terlambat. Kapten Ramadan Arietta, Anda sudah menunggu lama?"

"Tidak, saya tidak menunggu lama."

"Terima kasih -- saya Munir dari KBNI. Bisa kita mulai wawancaranya sekarang, Kapten Ramadan?"

"Isha. Panggil saya Isha."

                                   * * *

Glosarium

Mensa : sebutan untuk ruang makan.

Serma : sersan mayor, salah satu pangkat tertinggi untuk perwira lapangan di TNI.

KBNI : Kantor Berita Nasional Indonesia, kantor berita yang merupakan gabungan dari Antara, RRI, dan TVRI pada waktu itu.

Sunday, November 16, 2014

GWC : Create Your Own Legend


15 November 2014 merupakan momen yang monumental bagi Genshiken ITB. Bagaimana tidak, selain suksesnya pagelaran presentasi TA Calon Staff Genshiken ITB 2014 yang menuangkan total 25 (!) karya inovatif, untuk pertama kalinya dalam sejarah Genshiken ITB terdapat seorang pemenang Writing Challenge yang masih berstatus sebagai Calon Staff pada detik ia dinobatkan sebagai sang juara. Ya, Ted Kesgar // tkesgar - seorang Calon Staff Genshiken ITB 2014 yang bertugas sebagai ilustrator dalam tugas TA yang digelutinya - berhasil mengalahkan sembilan entri lainnya dalam Writing Challenge pemecah rekor entri terbanyak (hingga detik ini).

Entri yang membawanya menggapai posisi puncak - Zielverhuiser - mungkin akan kami cantumkan pada blog ini suatu saat, namun untuk saat ini kita tinggalkan sejenak euforia Writing Challenge bertemakan 'UJIAN' tersebut. Presentasi TA Calon Staff Genshiken ITB 2014 Sabtu lalu telah membawa angin segar kepada ragam divisi yang tergabung di bawah bendera Genshiken ITB. Ya, Divisi Story bukanlah pengecualian.

Salah satu presentasi TA yang lumayan disorot akan konsepnya yang relatif matang adalah 'Legenda Sungai Cikapundung' yang digawangi oleh M. Fathur, di mana sang penulis berusaha untuk membuat suatu epik fiktif yang menceritakan asal-muasal Sungai Cikapundung (yang notabene berlokasi relatif dekat dengan area kampus). Walaupun masih dinilai kurang dalam segi kepenulisan dan kesiapan cetaknya, para anggota Divisi Story sepakat untuk mengambil konsep 'mengarang suatu legenda fiktif akan sesuatu yang nyata' ini sebagai topik Writing Challenge selanjutnya dalam suatu rapat yang diselenggarakan dalam rangka mengevaluasi TA-TA yang terkumpul.

Adapun ketentuan-ketentuan pada Writing Challenge ini tertuang sebagai berikut :

  • Deadline : 17 Desember 2014
  • Konten minimal mengandung 100 kata, dan mengandung suatu legenda karangan sendiri
  • Legenda yang dimaksud tidak boleh merupakan penceritaan ulang dari legenda yang sudah ada/mengandung unsur-unsur dari suatu legenda yang sudah ada
  • Konten dikirim ke alamat e-mail story.genshiken.itb@gmail.com
  • Jangan lupa untuk mencantumkan 'Writing Challenge : Create Your Own Legend' (atau kata-kata sejenis yang representatif) sebagai subject e-mail, beserta identitas (nama/ID Forum) pada e-mail sebagai tanda pengenal

Akan sangat panjang apabila keseluruhan seluk-beluk TA Calon Staff Genshiken ITB 2014 dituangkan di sini. Untuk saat ini, silahkan menikmati rangkaian melodi familiar yang telah diaransemen ulang berikut (yang notabene juga merupakan salah satu TA yang dipresentasikan) sebagai penyemangat Anda semua dalam menulis.

Kompetisi kepenulisan ini terbuka bagi seluruh Staff maupun Calon Staff Genshiken ITB. Selamat berkarya!

Wednesday, October 1, 2014

GWC : The Genderbender

Sekilas entri ini mungkin terlihat terkait dengan proyek Heavy Inversion yang pernah kami ungkit sebelumnya, namun percayalah - keduanya merupakan hal yang tidak terhubung satu sama lain.

Adalah Karina R. // Riesling yang merupakan sosok di balik layar terbentuknya kisah kaya plot twist ini. Kisah ini tak lain merupakan respons sang penulis kawakan Genshiken ITB atas Writing Challenge sebelumnya yang bertemakan 'Superpower / Superhero', yang terpilih sebagai pemenang menyisihkan entri-entri lainnya setelah melewati proses penilaian oleh panel juri lintas generasi.

  • Judul : The Genderbender
  • Event : Genshiken Writing Challenge - Superpower / Superhero
  • Pengarang : Karina R. // Riesling

Hadiah untuk sang pemenang sudah tersedia dan dapat diklaim di sekretariat Genshiken ITB.

Selamat membaca!

----------------------------

Deg. Deg. Deg.

Pacarku menatapku lekat-lekat dari seberang meja. Gelas berisi es batu di depannya—minuman favoritnya—belum disentuh sama sekali. Kami sudah janjian ketemu di café ini sejak minggu lalu, tapi dia selalu tiba-tiba membatalkan janji.

“Ada yang harus kukatakan padamu,” begitu katanya setelah terdiam cukup lama.

Aku menelan ludah.

Kita baru jadian sebulan, masa sudah mau putus?!

 “Ada sesuatu tentangku yang kau tidak tahu... Kalau kau ingin kita putus setelah mengetahui hal itu, aku mengerti.”

Aku lega sekaligus terperanjat. Lega karena tidak langsung terang-terangan minta putus, tapi juga syok... Ucapannya itu sama sekali tidak pernah terpikir olehku. Pertama, aku terkejut karena selama ini dia menyembunyikan sesuatu dariku. Terkejut dan kecewa. Selama sebulan ini aku belum sembuh dari rasa ge-er bahwa aku adalah orang yang paAnya dekat dengan Gino dan tahu segalanya tentangnya. Bagaimana tidak ge-er, pacarku itu artis kampus nomor satu, aktor tampan sekaligus sutradara berbakat yang berhasil membuat unit teater populer bahkan di antara mahasiswa yang biasanya alergi terhadap sastra.

Lagipula kukira kami adalah satu dari segelintir pasangan yang tidak menyimpan rahasia dari satu sama lain. Aku bisa mempercayainya sepenuhnya dan dia juga percaya padaku. Semua masalah pasangan di komik dan film berawal dari krisis kepercayaan. Aku sempat sangat yakin bahwa kami tidak akan mengalami hal itu.

Tapi kenyataannya ada sesuatu tentangnya yang selama ini tidak kuketahui. Dan tampaknya ‘sesuatu’ itu begitu besar sampai-sampai bisa membuat Gino berpikir aku mungkin ingin putus dengannya.

Padahal selama ini sedikitpun tidak pernah terpikir olehku untuk putus dengan Gino. Rasanya begitu… salah.

“Anya… kumohon katakan sesuatu…” pintanya.

“Aku tidak tahu harus bilang apa,” jawabku jujur. Lalu aku menunggu.

“J-jadi begini… Sebenarnya aku—“

DHUAR!!!

Aku terlonjak dari tempat duduk ketika mendengar suara ledakan. Apa yang terjadi?!

Suara ledakan itu terdengar dari luar. Aku baru saja hendak mengintip dari jendela di belakangku, tapi Gino tiba-tiba mencengkeram bahuku.

“Kau tidak apa-apa kan?!” tanyanya panik.

“T-tidak. Aku nggak apa-apa kok.”

Tiba-tiba bumi ikut bergetar. Gempa?!

“Tunggu di sini, sembunyi di bawah meja lebih aman!” ujarnya lagi.

 “Bukannya lebih baik kita ke tempat terbuka?”

“Jangan! Pokoknya jangan keluar dari sini! Aku akan kembali sebentar lagi, oke?”

Aku tidak paham apa yang terjadi, tapi Gino benar-benar terlihat panik. Dia bilang ini bukan gempa, tapi kenapa dia panik begini?
Gino memaksaku bersembunyi di bawah meja sebelum berlari keluar café. Setelah dia keluar, aku juga keluar dari bawah meja dan menuju jendela untuk melihat apa yang terjadi di luar.

---

Aku melihat kengerian.

---

Monster. Aku tidak punya istilah lain untuk menyebut makhluk-makhluk mengerikan di luar sana. Jumlahnya mungkin ada ratusan, ukurannya sebesar anjing namun dengan tubuh yang dipenuhi lendir. Yang lebih mengerikan lagi adalah Gino yang berlari ke tengah-tengah kumpulan makhluk yang menghancurkan segala hal yang mereka lewati itu.

Akhir-akhir ini memang sering ada berita tentang serangan makhluk-makhluk mutan hasil eksperimen pemerintah. Foto di koran-koran persis seperti pemandangan yang kulihat sekarang. Hanya saja ini nyata dan sepuluh kali lipat lebih mengerikan. Serangan itu selalu berhasil dihentikan oleh seorang pahlawan wanita tanpa nama yang konon memiliki kekuatan super yang dapat menghentikan perkembangbiakan mutan ini. Hanya saja jika ada mutan yang tersisa dan tidak ditemukan, serangan semacam ini bisa terjadi lagi, seperti sekarang.

Lalu apa mau Gino, menerjang ke tengah lautan monster itu?! Dia bisa mati!

Baru sekali aku berkedip, aku sudah kehilangan sosoknya di luar sana. Ke mana dia? Apa yang terjadi?

Tanpa pikir dua kali aku keluar dari café untuk mencari Gino. Tapi aku tidak tahu harus mencari ke mana. Aku hanya bisa berdiri dan menoleh kanan-kiri sementara ratusan orang berlari melewatiku untuk menghindari monster-monster itu.

Gino, kamu di mana?!

Lalu tiba-tiba keajaiban terjadi. Aku serasa buta sesaat. Selama sesaat itu aku hanya bisa melihat warna putih. Ketika penglihatanku kembali, makhluk-makhluk mengerikan yang membuat onar tidak lagi bergerak. Sosok mereka menjadi tak menentu, berubah-ubah setiap detik—mengerut, mengembang, mengerucut… Terus begitu hingga akhirnya mereka semua lenyap. Di sebuah gedung tak jauh dari tempatku berdiri, aku melihat seorang wanita yang tinggi semampai dengan kedua tangan terkepal memandangi makhluk-makhluk yang menghilang pelan-pelan itu.

Aku pernah melihat sosok itu di koran dan televisi. Itu dia, si pahlawan tak bernama yang selama ini melawan mutan-mutan yang menyerang kota!

Tapi aku tidak punya waktu untuk mengagumi wanita itu. Aku harus mencari Gino! Bagaimana kalau…

Tidak! Aku tidak mau membayangkan itu! Dia pasti ada di sekiar sini, dia pasti baik-baik saja!

Aku bergegas menuju tempat makhluk-makhluk tadi berada, berharap bisa menemukan Gino di sana.

“Anya!”

“Gino--“

Bukan. Suara yang kudengar itu memang mirip dengan suara Gino, tapi terdengar berbeda… Seperti suara perempuan.

“Anya!”

Tadinya aku ingin menghiraukan panggilan itu, tapi akhirnya aku menoleh juga. Hanya beberapa meter dariku, aku melihat si pahlawan wanita tak bernama.

…Apa dia yang memanggilku? Tapi bagaimana mungkin dia tahu namaku?

“K-kamu manggil aku?” tanyaku ragu.

“Anya… Ini aku. Gino.”

“HAH?!”

Apa-apaan maksudnya?

Apa jangan-jangan aku sudah ditelan monster tadi dan sekarang berada di ambang kematian, lalu berhalusinasi? Bagaimana bisa pahlawan kota yang jelas-jelas perempuan mengaku sebagai pacarku yang jelas-jelas laki-laki?

Aku memerhatikan sang Pahlawan dari ujung rambut hingga ujung kaki. Dia tidak mengenakan kostum superhero seperti pahlawan di komik-komik. Pakaiannya biasa saja, kaos, jins, dan jaket kebesaran… Rasanya pakaian itu familiar. Wajahnya juga—

Ini pasti halusinasi.

Lalu sang Pahlawan mulai bertingkah aneh.

Dia jatuh sambil memegangi kepalanya dan mengerang. Tubuhnya seolah… seperti makhluk-makhluk tadi sebelum menghilang. Bentuknya seolah berubah-ubah… Lalu aku dibutakan oleh cahaya putih.

Ketika cahaya putih itu hilang. Aku melihat Gino berlutut dihadapanku sambil memegangi kepalanya.

“Gino…?”

“Ini yang ingin kuberitahukan padamu tadi. Sebenarnya aku adalah gadis yang selama ini melawan mutan-mutan hasil eksperimen pemerintah. Aku juga… menjadi mutan.”

Begitu katanya.

Aku tidak tahu harus menjawab apa.

“Aku sedang kunjungan ke lab tempat pemerintah bereksperimen dengan makhluk-makhluk itu ketika mutasi mengerikan itu terjadi. Ketika objek rekayasa genetik itu bermutasi menjadi monster, aku juga terkena… Akibatnya aku memiliki kekuatan mengendalikan gen makhluk-makhluk itu. Tapi efek sampingnya, setiap kali aku menggunakan kemampuanku, tubuhku akan bermutasi dan berubah menjadi tubuh perempuan…”

“Selama sebulan ini aku ingin mengatakannya padamu, tapi aku takut… Mana mungkin kau mau pacaran dengan… mutan… sepertiku?”
Mimpi.

Ya. Ini pasti mimpi.

Kalau disimpulkan, pacarku adalah seorang superhero. Tapi setiap kali ia menggunakan kekuatan supernya, dia berubah menjadi perempuan.

Ini…



Ini keren!

***
Sang Genderbender Menikah!
Gino Klein (22)—aktor dan pahlawan yang menyelamatkan kota dari serangan mutan hasil percobaan pemerintah tahun lalu—diam-diam menikahi kekasihnya, Anya Movitch (22), untuk menghindari gangguan massa dan media terhadap momen sakral itu. Namun jangan khawatir, mempelai yang berbahagia akan menyelenggarakan pesta kedua untuk menghormati seluruh fans sang Genderbender baik dari kalangan pecinta teater maupun mereka yang menyukai sepak terjangnya sebagai pahlawan penyelamat kita semua.



Thursday, July 10, 2014

Holiday GWC Announcement


Selamat malam semua! Pertama-tama, izinkan kami mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankannya (:

Bagi Anda yang sudah menjejaki liburan, bagaimanakah liburan Anda sejauh ini? Masihkah benih-benih produktivitas tersebut tersemai pada hati Anda? Atau Anda justru sedang merasa terpanggil untuk membuat sesuatu yang fenomenal?

Yah, mungkin saja Special Writing Challenge ini merupakan jawaban dari kegalauan hati tersebut. Divisi Story kembali memanggil massa Genshiken untuk berkarya melalui sebuah Writing Challenge yang didesain spesial ini. Untuk menyemarakkan Genshiken Staff Training (GST) 2014 mendatang, sengaja kami samakan tema Writing Challenge kali ini dengan tema GST 2014 - Superpower (Superhero).

Berikut ketentuan Writing Challenge kali ini:

• Deadline : 10 Agustus 2014
• Konten minimal mengandung 100 kata, dan mengandung hal terkait Superhero / Superpower
• Dikirim ke alamat e-mail adnin_likezcat@yahoo.com
• Jangan lupa mencantumkan 'Special Writing Challenge' di subject e-mail, beserta identitas (nama/ID Forum) pada e-mail sebagai tanda pengenal

Dan, yap - Writing Challenge kali ini berhadiah! Tak besar memang. namun semoga dapat menjadi sesuatu yang berarti~

Selamat berkarya!

----------------------------

PS : Sebagai bonus, kami turut melampirkan PV proyek Heavy Inversion yang dahulu pernah kami junjung ke permukaan. Selamat menonton!


Tuesday, May 13, 2014

GWC : Chocolates!

"Chocolates. Round chocolate. Square chocolate. Dark chocolate. White chocolate. Chocolate cakes. Chocolate bars. Gateau. Coins. Hot chocolate. Not the musical group. This chocolatier sure has a wide selection."

----------------------------

Yap, yap! Kami hadir kembali dengan membawa konten baru - sebuah cerita yang terinspirasi oleh makanan yang disukai sejuta umat. Coklat!

...tertarik untuk langsung membaca? Tunggu dulu, karena pertama-tama kami akan menyampaikan beberapa berita terkait Genshiken Story. Yah, mungkin foto di bawah ini sudah cukup menggambarkan apa yang ingin kami sampaikan:


Menjelang akhir masa kepengurusannya, Rakaputra P. // Rheine (selaku ketua Genshiken Story periode 2013-2014) mengajak segenap kru Genshiken Story untuk makan-makan bersama seraya mengakrabkan diri antar anggota di restoran Warung Pasta. Sebuah kejutan yang tak terduga memang, mengingat publikasi baru gencar dilaksanakan beberapa jam sebelum acara berlangsung (tambah lagi seluruh biaya yang dikeluarkan ditanggung oleh sang ketua sendiri!)

Acara ini sendiri lebih difokuskan untuk bersenang-senang dan melancarkan regenerasi anggota, mengingat pemegang tahta tertinggi Genshiken Story periode 2014-2015 telah terpilih (yakni Zakaria S. Laksmana // Nivalyx, apabila tidak ada halangan). Topik perbincangan utama kala itu adalah program kerja Genshiken Story dahulu, sekarang, dan akan datang (meskipun topik-topik ringan lainnya seringkali terceletuk oleh anggota-anggota yang hadir)

Oh, dan *kembali ke topik utama* ada yang memesan minuman coklat pada pertemuan ini! Coklat... Err, yah, tanpa panjang lebar lagi, berikut detail teknis terkait cerita pendek ini:

  • Judul : Chocolates
  • Event : Genshiken Writing Challenge XIII (Open Santa)
  • Pengarang : Caesar Adiputra Sutrisna

Penelitian telah membuktikan bahwa coklat dapat menghilangkan stres - semoga cerita berikut ini dapat membawa efek yang sama. Selamat membaca!

----------------------------

“Welcome!”

A tall, well-looking man greeted me from over the counter. I come closer and take a glance at the store’s display glass.

“What can I help with? Perhaps you would be interested in our…”

Chocolates. Round chocolate. Square chocolate. Dark chocolate. White chocolate. Chocolate cakes. Chocolate bars. Gateau. Coins. Hot chocolate. Not the musical group. This chocolatier sure has a wide selection.

“Why chocolate?”

The man seems confused at the suddenness of the question.

But then his dark chocolatier eyes shone ablaze.

“Now that is an interesting question.”

“Why NOT chocolate?” he replies.

“Did you know that the word chocolate comes from the Aztec language?”

“Chocolate, you see, is a gift from the gods themselves. The Aztecs, they really dug the thing. They drank it, traded it with it, probably even smothered themselves with the stuff. The Europeans then got in on the party and went crazy with the stuff. Probably the reason they drove off the Aztecs in the first place, so they can get their greedy hands on it all to themselves.”

“But not for long, because chocolate is a gift for all mankind. Wars were fought over it, and wars ended because of it.”

“Franz Ferdinand tried keeping all the chocolate to himself. People didn’t like it. Then there’s the thing with Tesla, Elvis, and…” he goes on and on. “…chocolate makes you happy! Chocolate is love! Chocolate is life! It is THE raison d’etre, the salt of the earth, the vivre itself! It’s…”

“The way you’re describing it, I wonder why the whole world hasn’t revolved around it yet.”

“Oh, but it will, soon. That thing called BitCoin?”

“Obsolete. Digital chocolate BiteCoins are the new thing.”

Really.

“Well then, how much will these analog chocolate coins cost me?”

He leans behind the counter and grabs a shovelful of coins and drops it in a paper bag.

“10 dollars.”

I grab my wallet and drop the cash.

“Thank you, come again!”



I step out of the store, chocolate coins in hand.  I’ve seen enough.

“Sheesh. If I had known it was going to be this popular, I should have patented the damn thing.”

“Now I know how Prometheus feels…”

That day, people around the shopping arcade said they witnessed a feathered serpent that rose up to the sky and then disappeared.

Thursday, April 24, 2014

GWC : Mine Bug

Halo, halo! Selamat malam semuanya!

Beberapa minggu belakangan merupakan minggu-minggu super padat bagi massa Genshiken ITB, namun semua itu terbayar dengan suksesnya perhelatan pameran karya GenCarnival pada 19 April lampau (walaupun tak dapat dipungkiri ada beberapa kesalahan teknis yang mengganggu berjalannya acara). Kami harap Anda semua yang sempat menyambangi GenCarnival dihampiri oleh aura positif dunia industri kreatif yang senantiasa berkembang!

Tidak sempat berkunjung ke GenCarnival? Well, ada satu berita menarik yang mungkin Anda lewatkan : Genshiken Story telah merilis secara perdana kepada publik kompilasi pemenang Writing Challenge-Writing Challenge sebelumnya eksklusif di GenCarnival. Memang selain itu masih banyak fitur menarik yang ditawarkan oleh GenCarnival, namun mengingat blog ini lebih dikhususkan untuk hal-hal yang terkait divisi Story, tak faedah rasanya kalau kami tidak mengangkat berita besar ini sebagai tajuk utama :D


Gambar di atas merupakan ilustrasi yang menemani salah satu cerita yang dimasukkan ke dalam antologi cerita pendek tersebut, yakni Mine Bug. Berikut detail-detail teknis terkait cerita yang dipaparkan:

  • Judul : Mine Bug
  • Event : Genshiken Writing Challenge VIII (Creepypasta)
  • Pengarang : (masih dalam konfirmasi)

...yah, kami rasa jelas sudah mengapa gambar di atas kental dengan nuansa horor (:

Apabila Anda penasaran untuk membaca entri lain pada Writing Challenge terkait, Hide-And-Seek with Elmo mungkin dapat memuaskan rasa keingintahuan Anda. Selamat membaca!

----------------------------

Harvest Moon, game yang satu ini pasti sudah tidak asing lagi di telinga kita.Tentu saja, mungkin ada beberapa orang yang merasa bahwa ini adalah ‘gerbang masuk’ mereka ke dunia game. Walau begitu, game ini tidak lepas dari isu-isu yang mengganggunya.

Jika kamu bermain game ini untuk pertama kalinya, atau berapa kali pun, tentu akan segera tahu bahwa di samping bercocok tani dan berternak, ada satu lagi mata pencaharian yang sering sekali dilakukan oleh orang-orang yang kembali bermain Harvest Moon: Menambang.

Ya, menambang adalah sumber penghasilan yang amat lumayan, apalagi jika dibandingkan dengan bertani di hari-hari pertamamu mulai bermain. Penghasilanmu bisa meroket jika dibandingkan dengan hanya bertani di musim semi pertama.

Tapi, ada sebuah bug yang jarang diketahui orang ketika menambang. Kalau pada pacuan kuda pertama kau berhasil mendapatkan cukup tiket untuk membeli sebuah Power Berry (1001 tiket), maka bug/glitch ini akan berjalan.

Pada tahun pertama, satu-satunya cara yang cukup cepat untuk mendapatkan banyak uang hingga dapat membeli banyak tiket pacuan kuda adalah dengan menambang. Setelah mendapatkan Power Berry dari pacuan kuda pada musim semi tahun pertama, ketika kau menambang cukup dalam hingga kau bisa mendapatkan Mystrile hampir dalam seluruh galianmu, kau akan menemukan sebuah Power Berry.

Tidak seperti Power Berry biasa, ketika kau mendapatkan Power Berry ini, kau akan ditanya apakah kau mau memakannya atau tidak. Bentuknya sama persis dengan Power Berry lainnya, perbedaannya hanyalah munculnya layar konfirmasi.

Ketika kamu menjawabnya, sebuah suara berdecit seperti besi yang digesek di papan tulis hitam akan muncul untuk sementara waktu, kemudian menghilang.

Ketika kamu kembali ke atas, maka saturasi warna layar akan berubah menjadi merah, di waktu apapun. Baik ketika pagi hari,siang, ataupun malam kau keluar dari tambang, maka seluruh layar akan berwarna kemerahan.

Setelah kamu tidur dan bangun keesokan harinya, jika kamu menanam tanaman apapun sebelum memakan Power Berry dengan konfirmasi, maka kamu akan menemukan tanaman itu telah berubah menjadi tanaman sulur berwarna merah terang. Begitu juga dengan rumput liar yang ada di kebunmu, semuanya akan berubah menjadi tanaman sulur tersebut. Sementara itu, semua batu dan semua kayu menghilang.

Kuda dan anjing milikmu, ketika diajak berbicara, akan mengeluarkan dialog yang sama sekali tidak bisa dimengerti. Ketika mereka menghadap ke arah layar, jikadiperhatikan dengan jelas, pupil mata mereka telah berubah menjadi merah. Begitu juga dengan ayam ataupun sapi dan domba yang kamu miliki jika kamu telah memilikinya.

Ketika kau keluar dari peternakan, kau akan melihat orang-orang desa yang berjalan jauh lebih lambat dari biasanya, walaupun waktu berjalan seperti biasa. Ketika kau menyapa salah satunya, kau akan menemukan kalau wajah mereka dipenuhi kerutan-kerutan gelap yang tidak seharusnya ada, kantung mata, dan mata yang tidak bercahaya. Ketika kau masuk ke supermarket, yang ada di etalase hanyalah bola berwarna merah terang dan kantung-kantung tanaman berwarna merah darah.

Ketika kau mencoba memancing, yang akan kaudapatkan hanyalah bangkai ikan, tidak peduli apapun ukurannya.

Bahkan ketika game dimatikan, ketika dinyalakan kembali, game tidak akan dimulai dari halaman muka, tapi langsung di tempat dimana karaktermu terakhir berdiri.

Beberapa orang yang mematikan game yang telah terkena bug ini tanpa memainkannya lagi, mengaku mendengar desahan, jeritan, serta decitan yang memekakkan telinga setiap malam.

Kabarnya, ketika game ini dibuat, Power Berry pada pacuan kuda tidak pernah dimaksudkan untuk bisa didapatkan di tahun pertama. Tidak ada yang tahu siapa yang mengurus jalur dimana Power Berry itu bisa didapatkan di tahun pertama. Yang diketahui adalah, ada seorang pegawai Natsume yang mendadakmengundurkan diri setelah paruh pertama game selesai dibuat. Ia mengatakan mendengar decitan-decitan aneh setiap malam setelah ia menyelesaikan sistem pacuan kuda.

Pegawai tersebut ditemukan tewas beberapa hari kemudian di apartemennya, dengan tubuh yang terkoyak-koyak disamping tanaman sulur yang tumbuh di jendela rumahnya, dengan darah mengalir dan merembes di pot tanaman sulur itu.

Sunday, March 30, 2014

GWC XIII Announcement


Halo, dan selamat datang semuanya! Pengumuman yang akan kami bawakan kali ini cukup krusial, mengingat...

...ini adalah Writing Challenge terakhir di musim ini (2013-2014).

Yap - writing challenge XIV mendatang baru akan diadakan berbulan-bulan kemudian (estimasi sekitar Agustus), dengan nuansa yang baru. Selama periode hampa tersebut akan ada transisi pada jajaran staf Genshiken ITB, di mana prajurit-prajurit baru akan menggantikan peran seniornya yang telah mengabdi secara sepenuh hati selama satu tahun.

Untuk memperingati Writing Challenge yang sangat spesial ini, Rakaputra P. // Rheine selaku ketua Genshiken Story telah mempersiapkan suatu konsep yang sangat spesial untuk Writing Challenge kali ini : Open Santa. Apakah gerangan itu?

'Open Santa' adalah konsep di mana dua orang (atau lebih) dipasangkan dan masing-masing memberikan topik kepada partner-nya untuk dikembangkan menjadi cerita tersendiri. Kronologinya:

  • Partisipan mendaftar untuk mengikuti event via comment pada post Rakaputra P. di grup Facebook Genshiken ITB (Member Only) - deadline pendaftaran 2 April 2014
  • Partisipan kemudian akan dipasangkan berdua-berdua oleh Rakaputra P.
  • Partisipan menentukan tema yang akan dijadikan cerita oleh partner-nya, dan kemudian menulis cerita berdasarkan tema yang telah ditentukan partner-nya
  • Cerita dikumpulkan paling lambat 2 Mei 2014 ke adnin_likezcat@yahoo.com

Peraturan umum lainnya (cerita minimal 100 kata dan lainnya) tetap berlaku seperti biasa. Untuk menutup post ini, kami akan lampirkan sebuah kalimat mutiara yang dikutip langsung dari Rakaputra P. sendiri:

'Mari kita mewujudkan impian kawan-kawan Genshiken (ITB) kita!'

- Nivalyx

Saturday, March 29, 2014

Text Game : < untitled >



'Love may come in various forms, with various reasons'

----------------------------

Today we shall bring you to the world we never explored before - the world where ones and zeros meets letters and symbols:

Text-based game.

Forged specially for Genshiken Writing Challenge XII (in which we forgot to post previously, pardon us!), <untitled> allows everyone to experience playing an interactive web text-based game. This genre, although probably being visual novel's simplest form, actually holds a load of potential - The LCPANES Terminal, for example, currently possesses a perfect five-star rating on rpgmaker.net. With all these promising facts, how was this very game went, then?

First of all, let us warn the younger audiences first that this scriptborn from Ezra H. // illuminaseeker contains some pseudo-suggestive scenes, so readers' discretion is advised. Some of them are mind-bending, to be honest. The story itself opens with the interactive 'input your name' dialog box, followed by - I have no idea why the page is named login.php - the welcome (introductory) screen. What lies after that, though, is...

Well, this story tells about an ordinary college student whose life is about to change. Any move taken by you redefines the main character's fate, either positively or negatively. The main character realized that the tree of luck has been on his side recently, and he is on his quest to discover who planted the roots itself - a lecturer, a family member, or a fellow band member.

Several storylines haven't been implemented though (the game should allow you to pick whether you're taking a degree in accountancy/informatics/musical art but only accountancy is available prior to this version, for an example) but even with its current condition there are still 10+ outcomes possible. This adds a huge replayability value, which is a big plus.

The plot twists on this one are a major factor as well, though. It's massive - it adds a huge amount curiosity to the readers about what will happen next. The unusual pairing should also elicit a smile to its readers, as well as the message given on the every ending sequence.

To be honest, I feel quite weird while reading the suggestive parts. There's and ending I liked the most due to it being inspirational somehow (SPOILER : the 'laziness + lie combination' one) but the more suggestive ending ones are just... Well, perhaps that's because I'm not used to stories like this?

Furthermore, it feels quite sad that the design seems overwhelmingly simple - I can understand this though, considering the fact that it is being created for a (dead-lined) writing challenge. The casual writing style itself could also be improved more though in my eyes - further proofread should do good!

Overall, I see this project (if it can be called so) had undergone a promising start. Had the page had more than just a simple 'font size="5"' tag and a more solid writing, this shall attract a lot of pleasant readers. Frankly speaking, I envision that this project will be stellar if being worked as a team rather than solo - illuminaseeker himself is actually majoring Teknik Informatika (informatics), so the coding-related issues should do no big harm.

This interactive story-game hybrid may be played here, for your pleasure. Oh, and as further trivia, this game isn't named 'untitled' by purpose - it does meant to be untitled from the start.

PS : In fact, there are two text-based games submitted for this challenge - stuffs the second story coming soon! (not sure when though, I already have something more important to be posted next)

- Nivalyx

Thursday, February 6, 2014

GWC : Hide-And-Seek with Elmo

Selamat malam semuanya! Bagaimanakah hari Anda sejauh ini?

Pertama-tama, izinkan kami menyampaikan suatu pengumuman singkat kepada massa Genshiken ITB : Setelah sempat mengalami penundaan, Makrab Genshiken ITB Angkatan 2013 akhirnya memiliki tanggal pelaksanaan resmi! Acara tersebut akan dihelat pada Jum'at, 14 Februari 2014 dengan tema 'Role Playing of Genshiken (RPG)' - mengingat tanggal pelaksanaan yang jatuh bertepatan dengan hari Valentine, dapat disimpulkan bahwa tak selamanya penundaan suatu event itu menjadi pertanda buruk (:



 
----------------------------

Agar tidak melenceng dari tajuk blog, pengumuman di atas turut kami imbangi dengan konten cerita dari Writing Challenge terdahulu, yakni 'Hide-And-Seek with Elmo'. Detail-detail teknis mengenai kisah ini adalah sebagai berikut:

  • Judul : Hide-And-Seek with Elmo
  • Event : Genshiken Writing Challenge VIII (Creepypasta)
  • Pengarang : Radian Agusta // Reinhart

Sebagai informasi tambahan, Writing Challenge VIII ini merupakan salah satu Writing Challenge dengan jumlah entri terbanyak sejauh ini, sehingga besar kemungkinan kami akan mem-post cerita-cerita Creepypasta lainnya karya anggota kami di lain waktu :D

Selamat membaca!

----------------------------

“Hide-and-Seek Alone…” secara tidak sadar aku menyebutkan kata kata itu secara lisan sewaktu aku membaca kata itu di halaman blog yang baru saja aku buka.

Beberapa waktu lalu, temanku bercerita soal ‘cerita seram’ .Pribadi aku tidak terlalu percaya dengan hantu, roh, apapun itu, namun aku tertarik oleh hal-hal misterius seperti ini.Hanya sebatas hobi dan rasa ingin tahu.‘Cerita Seram’ yang dia ceritakan ini dia baca di sebuah blog dimana di blog itu bahkan tertera ‘tutorial’ dan langkah-langkah untuk melakukan permainan yang ada didalam ‘cerita seram’ tersebut.Pada saat itu aku langsung meminta link website blog tersebut darinya.

Kira-kira sudah sekitar dua minggu setelah aku mendapatkan link itu, dan baru hari ini aku bisa membukanya… karena akhirnya adikku mau diseret pergi keluar rumah oleh orang tua-ku dan aku bisa menguasai koneksi internet rumah.Iya, aku sedang sendiri di rumah yang katanya rumah tua ini.

Hide-and-Seek Alone. Itulah nama ‘permainan horror’ yang pernah dikatakan temanku. Dengan rasa ingin tahu yang besar, aku baca isi blog itu sampai bawah.Benar, langkah-langkah permainan itu tertera secara detail.Apa yang kubaca seperti terukir di otaku seakan-akan aku mengkonfirmasi barang yang dibutuhkan itu ada atau tidak di rumahku ini. Mengejutkannya, semua barang esensial itu ada di rumahku ini.

‘A doll with legs (must not be a human doll or a doll that you like), Rice, Red thread, something from your body), weapon (preferably pencil or needle), salt/saltwater or alcohol, Safety place, a name for the doll.’

Aku bersyukur aku sudah fasih berbahasa inggris sejak SD, sehingga membaca isi blog ini tidak terlalu susah. Merasa penasaran dengan permainan ini, aku berdiri dari tempat dudukku dan langsung mencari barang barang tersebut.

“Boneka punya adik, check.
Nasi, check.
Benang merah, check.
Something from your body… hmm… Rambut harusnya bisa, check.
Senjata… Cutter aja deh, check.
Garam, banyak.”

Aku absen satu-satu barang barang yang ada di kasurku sambil melihat layar computer.

“A name for the doll… kenapa harus dikasih nama sih…” kataku dengan nada yang sedikit kesal. Jujur saja, kalau aku mau bermain game, hal yang membutuhkan waktu paling lama itu menentukan nama untuk karakterku sendiri.

Aku melihat boneka yang tergeletak dikasurku, boneka Elmo yang aku berikan ke adikku setelah aku menangkan dari permainan di sebuah mall. Setelah melihat boneka itu lebih lama, akhirnya aku menentukan nama untuknya. “Elmo… kenapa nggak kepikir daritadi coba?” aku bertanya pada diriku sendiri sengan bodohnya, jelas-jelas boneka itu sudah punya nama darisananya, untuk apa diubah?

Oke, galaunya di skip dulu
.
Aku kembali melihat layar komputer dan mencari langkah-langkah untuk memulai permainan.Yah, apalah daya orang yang sedang bosan, hal seperti ini pun dicoba.

”Method:
1. Cut the doll and replace the foam/stuffing with rice.
2. Place something from your body into the doll.
3. Wrap the doll with a red thread as if to hinder (stop) the doll.
4. In a bathroom, pour water onto a large washbasin and find a place to hide.
5. Place a cup of salt water in the place before starting the game.”

Itu yang tertulis di blog tersebut. “Cukup mudah…”

Kira-kira sudah sekitar 15 menit berlalu sejak aku mulai mengosongkan isi Elmo, setelah lama mempersiapkan semuanya, aku kembali lagi ke layar komputer.“Oke, cara mainyaaa…” aku terdiam sejenak sebelum perlahan melihat jam di ujung kanan bawah layar komputer.

02:55 AM

Iya, orang tua-ku meninggalkan aku, anaknya yang paling tua, di rumah sendirian sepanjang malam, kabarnya acara mereka sampai jam 2an, lalu pejalanan pulannya bisa sampai satu setengah jam.Yaa, ada lah setengah jam untuk melakukan permainan ‘horror’ ini, haha.

‘To play:
Start at 3 AM, since that is the time where spirits are the most free to move.
Give the doll a name (for example: Bob).
When the clock strikes 3, close your eyes and say, "First tagger is (doll name)! First tagger is (doll name)! First tagger is (doll name)!"
When talking to the doll, you MUST talk sternly.
Now go to the bathroom and place the doll in the washbasin.
Turn off all lights.
Close your eyes and count to 10, get your prepared weapon and go to the bathroom.
Go to the doll in the washbasin and say

"I found you (doll name)!"

And stab the doll.
After that, close your eyes again and say

"Now (doll name) is it! Now (doll name) is it! Now (doll name) is it!"

Place the weapon next to the doll and go to your hiding (safety) place. You MUST lock the door.
Also, lock all windows and doors.

Place the salt water in your mouth. DO NOT SPIT IT OUT. The salt water will protect you from the spirit.”

“Oke, udah jam segini, harusnya sih bisa. Beruntung banget pas jam segini buka blognya.” Merasa dikejar waktu, aku mulai mematikan semua alat elektronik mulai dari komputer, TV diluar, sampai semua lampu di rumah.Kenapa? Di bagian bawah blog itu ada ‘IMPORTANT NOTES’, tulisannya caps lock semua jadi aku piker itu lumayan penting, katanya pemain harus mematikan semua alat elektronik sebelum memulai… untuk memberi kesan seram mungkin?

Setelah semuanya siap, aku berdiri menatap Elmo yang ‘menatap’ku dengan matanya yang bulat itu.‘Karena tutorialnya pakai Bahasa inggris, mungkin yang main harus pake Bahasa inggris juga? Ya sudahlah. ’Pikirku ketika sedang mengingat ‘mantra’ yang harus diucapkan.

“First tagger is Elmo! First tagger is Elmo! First tagger is Elmo!” aku berbicara dengan tegas namun setengah menahan tawa, ya siapa sih orang berumur 18 tahun yang tidak merasa konyol berbicara pada benda mati?Setelah aku menyebutkan kalimat itu, aku mengangkat Elmo dan menaruhnya di bak air yang sudah kusiapkan di kamar mandi.Harusnya sih mematikan lampunya sekarang, Cuma aku sedikit malas jadi aku matikan sebelum ini.

Aku keluar dari kamar mandi, kututup mataku dan kuhitung sampai 10.

“…8, …9, …10!!” aku buka mataku dan aku ambil cutter yang sudah ku masukkan kedalam saku, aku masuk lagi ke kamar mandi dan aku katakan dengan nada tegas, sekali lagi, menahan tawa.

“I found you Elmo!” tak ada dua detik setelah kusebut itu, tubuh boneka yang sudah basah itu kutancap dengan cutter. Aku sedikit mempertanyakan kenapa harus ditusuk? Ini petak umpet, bukan bunuh-bunuhan, tapi ya kita ikuti sajalah. Kututup kembali mataku sambil aku bilang

“Now Elmo’s it! Now Elmo’s it! Now Elmo’s it!”

Kuletakkan cutter di sebelah Elmo yang tubuhnya sekarang berlubang sebelum aku lari ke tempat persembunyianku.Tempat persembunyian yang cukup klasik, di dalam lemari baju.Mengikuti tutorial di blog itu, aku mengunci pintu kamar dan menutup semua jendela sebelum bersembunyi.Aku simpan air garam didalam mulutku, dan aku mulai menunggu.
.
.
.
.
.
.
‘Ini konyol…’ pikir ku, duduk diam tanpa suara didalam lemari baju, aku meninggalkan ponselku di tempat tidur dalam keadaan non-aktif sehingga aku tidak tahu waktu dan tidak ada kerjaan. Dia hanya boneka! Jalan saja tidak bisa!

Merasa semua ini mulai konyol, aku berniat keluar dari lemari.Namun, baru bergerak sedikit, tiba-tiba aku mendengar TV di ruang tengah menyala dengan sendirinya.Namun yang kudengar hanya suara channel yang rusak, suara bising kalai kita menonton channel yang hanya bergambar ‘pelangi’.

‘Ah palingan rusak.’Pikirku sebelum volume TV tersebut mulai naik turun, naik sampai membuat kupingku berdengung, turun sampai serasa TV itu mati. Sesaat setelah momen perusak telinga itu, TV itu terdengar seperti mengganti channel dengan sendirinya, setiap berganti keluar satu kata yang menyambung dengan kata berikutnya:

“Where”, “Are”, “You”.Suara lelaki yang seperti mendesis terdengar diikuti dengan suara tawa yang mengerikan, tak salah lagi suara itu berasal dari TV di ruang tengah yang volumenya 100%.

Aku merasa mulai berkeringat dingin dari titik itu. Dari yang aku baca, menyiram boneka itu dengan air garam yang sekarang ada di mulutku akan mengakhiri permainan ini… Sepertinya sudah saatnya aku akhiri saja. Baru saja aku ingin berdiri dan keluar dari lemari… TIba-tiba…

“Hey, you’re in there, aren’t you?”

Ada suara yang SANGAT jelas terdengar tepat dibalik pintu lemari ini berkata, aku terkejut sampai-sampai tidak sengaja menelan apa yang ada di mulutku. Air garam, satu-satunya cara keluar dari permainan ini, baru saja kutelan…

“I know you’re there.”

Aku tetap diam, meski sangat panik karena kehilangan senjata terakhirku.

“COME OUT!!!”

Aku mulai merinding.

“… I guess you’re not there.”

Aku merasa sangat ringan, setelah itu aku tidak mendengar suara lagi… merasa sudah lumayan aman, aku menenangkan diri dengan menghela nafas, yang mengeluarkan sedikit suara. Lalu…
“What was that sound?”

Aku kembali tegang, namun sedikit bersyukur karena aku ingat kalau lemari tempat aku bersembunyi sekarang itu kunconya sedikit rusak jadi bisa dikunci dari dalam. Untungnya aku sudah mengunci lemari ini sebelumnya makanya aku bisa bersandar ke pintu ini, meskipun secara ajaib Elmo ternyata bisa bergerak, dengan tingginya dan kekuatan boneka berisi nasi, ia tak mungkin bisa membuka lemari ini.

“I knew it…”

‘I knew it’? apa itu maksudnya dia tau aku bersembunyi disini?? Ah! Bodohnya diriku yang tidak membaca sampai selesai, aku hanya tau harus menyiram Elmo dengan garam, yang sekarang hilang, untuk mengakhiri permainan ini.Namun aku tidak tahu prosedur jika Elmo menemukanku.
Apa yang akan terjadi… kalau si boneka itu menemukanku?

Jawaban dari pertanyaan itu datang bersamaan dengan sara perih dan ngilu di dadaku, serasa tertusuk sesuatu. Secara reflek, aku menggerakkan tanganku ke dadaku.

Basah… hangat… tajam…

Di dalam kegelapan lemari, aku melihat ke bawah, ke dadaku, dan aku melihat ujung cutter keluar dari tengah dadaku.Aku tak bisa bersuara, tenggorokan ku seperti tersumbat darah, bajuku mulai lengket karena darah yang keluar dari luka tusukan di dadaku.

“I FOUND YOU!!”

Hanya itu yang kudengar sebelum cutter yang menembusku ditarik secara kasar dan sensasi yang serupa mulai bermunculan si sekujur tubuhku yang bersentuhan dengan dinding pintu.
Aku membuka mulutku serasa ingin berteriak, namun hanya darah yang keluar.Tanganku mulai mulai lemas dan menggantung di sampingku.Ujung cutter itu menusuk nusuk tubuhku dari luar berkali-kali.Terasa lama tubuhky tersiksa benda tajam itu sampai akhirnya serangan itu berhenti. Aku… harus cari… pertolongan…

Ponselku…  Ponselku yang ada di tempat tidur, hanya itu satu satunya koneksiku ke dunia diluar rumah.Menahan rasa sakit dan darah yang menetes dari tubuhku, aku mencoba berdiri… hanya untuk jatuh lagi di ruang lemari yang sempit.Namun, kali ini aku benar benar tergeletak di dasar lemari.

Melalui sela-sela pintu lemari, aku bisa melihat figure kecil yang berdiri dibaliknya… Kecil, berbulu merah, dengan cutter berlumurah darah di tangannya… kulihat sedikit keatas, dan kutemukan matanya yang bulat itu, menatap kearahku dengan tatapan kosong layaknya boneka. Tak salah lagi… Boneka Elmo yang kugunakan untuk permainan ini… dia… hidup

Sedikit demi sedikit, kesadaranku mulai sirna, penglihatanku mulai kabur, badanku melemas.Dunia yang kulihat melalui mataku ini perlahan mulai ditelan kegelapan… hanya satu kalimat yang terbakar di ingatanku sebelum kegelapan menelan semua di pandanganku.
.
.
.
.
“I WIN!”

Monday, February 3, 2014

GWC XI Announcement

Halo semuanya, saatnya menyambut bulan Februari yang indah!

...yap, Genshiken Writing Challenge kembali dengan tema yang baru! Dalam nuansa Tahun Baru Cina masih segar dalam ingatan dan Valentine yang akan menyapa kita dalam beberapa hari ke depan, Genshiken Story kembali memanggil seluruh massa Genshiken ITB untuk berpartisipasi dalam Genshiken Writing Challenge XI : 'Love and a Horse'!

Mungkin memang terdengar agak random - yah, begitulah. Adapun ketentuan Writing Challenge kali ini adalah:

  • Cerita mengandung unsur romance
  • Cerita mengandung setidaknya satu ekor kuda
  • Cerita tidak mengandung materi dewasa ataupun hal-hal yang tidak etis lainnya
  • Cerita minimal mengandung 100 kata

Seperti biasa, Writing Challenge kali ini hanya dapat diikuti oleh massa Genshiken ITB. Bagi massa Genshiken ITB yang merasa terpacu untuk mengikuti tantangan ini, cerita dapat dikirimkan ke alamat adnin_likezcat@yahoo.com // meongngng hingga tanggal 24 Februari 2014.

Oh, dan bagi Anda yang bertanya-tanya bagaimanakah gerangan perkembangan Genshiken Writing Challenge sebelumnya - ya, kami akan mem-post cerita-cerita hasil Writing Challenge tersebut sesegera mungkin setelah para juri menyampaikan penilaiannya.

Selamat berkarya!

- Nivalyx

Tuesday, January 28, 2014

GWC VI : Transisi, Repetisi

Selamat sore, para pembaca sekalian!~

Seperti yang telah dijanjikan sebelumnya, cerita-cerita kreasi massa Genshiken hasil kompetisi Genshiken Writing Challenge yang telah berlalu akan kami publikasikan di blog ini secara berkala! Kami akan memulainya dengan salah satu karya keluaran Genshiken Writing Challenge VI, yakni 'Transisi, Repetisi' -  adapun detail-detail teknis mengenai kisah ini adalah sebagai berikut:

  • Judul : Transisi, Repetisi
  • Event : Genshiken Writing Challenge VI (Time Loop)
  • Pengarang : *

Selamat membaca!~

* Catatan : Hasil-hasil Writing Challenge di-post di forum kami tanpa mencantumkan identitas pengarang - identitas pengarang akan ditambahkan setelah ada konfirmasi

 -------------------------------------------

“Eh?”

“Kita kembali lagi?”

“Ini apaan sih!?”

Suara-suara senada bisa terdengar didalam kelas ini. Seorang pemuda yang duduk di pojok tidak berkata apa-apa, tapi dalam hatinya ia juga merasa sebal dengan apa yang terjadi saat ini.

“Ini sudah ketiga kalinya, ketiga, lho!” seru orang yang duduk disamping pemuda yang diam tadi.

Si pemuda itu sendiri pernah membaca beberapa cerita tentang hal ini, dimana entah hanya sedikit karakternya yang terpengaruh, atau sang karakter melupakan bahwa kejadian ini terjadi.

Timeloop. Waktu yang terus menerus terulang.

Tapi timeloop yang terjadi hari ini belum pernah ia pikirkan sebelumnya. Seisi kelas terkena dampaknya dan mengingat kejadian itu. Alhasil, ujian hari ini, telah terjadi sebanyak tiga kali. Kini mereka dalam pengulangan ketiga, dan akan melakukan ujian tengah semester untuk yang keempat kalinya.

Ketika waktu terulang untuk pertama kalinya, semua anggota kelas terkejut bukan main, sebagian bahagia bukan main karena mengetahui soal yang akan dibagikan dan segera mempelajari soal-soal ujian yang sudah mereka ketahui sebelumnya. Sebagian yang lain memilih diam dan mengikuti, walaupun dalam hati mereka tidak mengerti apa yang tengah terjadi.

Dari apa yang bisa mereka lihat, sang guru sama sekali tidak tahu apa yang sedang terjadi. Ia membagikan soal seperti sebelumnya. Beberapa orang anak tertawa kecil ketika sang guru membagian soal. Mereka sudah mengetahui seperti apa soal yang akan mereka kerjakan.

20 menit setelah ujian dimulai, salah seorang siswa berdiri.

“Pak, saya sudah selesai, bolehkah saya meninggalkan ruangan?”

Sang guru mengangguk, dan mengisyaratkan siswa tersebut untuk menaruh lembar jawabannya didepan. Seraya bersiul riang, siswa itu berjalan menuju pintu keluar, dan… WHUSH!

Semua kembali seperti semula. Mereka yang masih mengerjakan soal, tersentak karena pemandangan didepan mata mereka bukan lagi soal, melainkan pemandangan pagi tadi.

“Eh? Kok kita kembali lagi!?” seru salah seorang siswa.

“Oi, Tom, jangan-jangan ini gara-gara kamu keluar kelas?” ujar siswa lain pada siswa yang pada pengulangan pertama, keluar kelas setelah 20 menit ujian dimulai.

“Masa sih…?” Tom merengut, kemudian duduk diatas meja.

“Sekarang masih… jam 9 kurang 10… kita benar-benar kembali ke waktu sebelum ujian… Kukira ini cuma mimpi…” ujar salah seorang siswi. Siswi itu menoleh ke teman di sebelah kanannya.

“Al, Alia, gimana menurutmu?” tanya siswi tersebut pada gadis disebelahnya. Gadis itu diam, kepalanya tertunduk menatap meja didepannya. “Hei, ketua kelas!” Dipanggil ketua kelas, barulah sang ketua kelas, Alia, menyahut.

“Eh? Ah, tidak… aku tidak tahu apa yang terjadi…”

“Pokoknya, sekarang jangan ada yang keluar kelas! Gue tahu lu pinter kok, Tom, tapi jangan keluar kelas sampai ujian selesai, ya!” ujar salah seorang siswa.

“Iya, iya. Ah, sudah datang, tuh!”

Para siswa dengan tergesa-gesa kembali ke tempat duduk mereka masing-masing, duduk dalam posisi siap ujian. Mereka tenang karena mereka tahu isi kertas yang mereka hadapi. Di sisi lain, mereka merasa cemas akan ketidakpastian yang menunggu mereka di akhir ujian.

Dalam 100 menit kemudian, tidak ada satupun yang bersuara. Bahkan, guru merekapun tidak berbicara sama sekali setelah ia menjelaskan tata tertib ujian. Ia terkadang berjalan diantara para siswa, dan kadang ia duduk di kursinya, mengeluarkan ponsel dan mengutak-atiknya.

Setelah ujian tersebut selesai dan sang guru keluar dari kelas, seluruh siswa kelas tersebut bernafas lega, tapi masih ada sesuatu yang mengganjal di beberapa dari mereka. Bisakah mereka keluar kelas dan mendapatkan pemandangan berupa lorong, bukan kembali ke kelas dua jam sebelumya?

“Hei, jadi gimana nih?”

“Iya, apa nggak apa-apa kalau kita keluar?”

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu mulai terdengar dari mulut para siswa. Hiruk pikuk segera memenuhi seluruh kelas. Alia, sang ketua kelas, melihat ke seluruh kelas dan berpikir.

“Salah satu dari kita harus mencoba keluar.”

Alia berkata dengan suara lantang, mengalihkan perhatian semua siswa lain padanya.

“Tapi, bagaimana kalau kita mengulang ujian ini lagi?”

“200 menit penyiksaan seperti ini sudah cukup, Ya.”

“Saat ini, cuma itu yang bisa gue sarankan. Apa kalian punya ide lain?” tanya Alia pada siswa-siswa di kelasnya. Tak ada satupun yang menjawab.

“Kalau tidak ada yang memberikan ide, kita harus mencoba keluar.”

Salah seorang siswa tampak ingin mengatakan sesuatu, namun ia mengurungkan niatnya.

“Baik, kalau begitu, aku akan mencoba keluar.”

“Kalau kita kembali lagi, bagaimana?”

“…Kurasa kita tidak punya pilihan selain mengerjakan lagi ujiannya.” jawab Alia lirih dengan senyum lemah di wajahnya.

“Tapi, itu…” potong seorang siswa, yang suaranya melemah dan kemudian menghilang.

Alia baru akan membuka pintu, ketika Tom menahannya.

“Ada apa, Tom?”

“…tidak.” Tom melepaskan tangannya dari bahu Alia, dan Alia melangkah keluar.

WHUSH.



Semua kembali ke tempat mereka masing-masing. 30 menit sebelum ujian dimulai.

Alia, Tom, siswa siswi lainnya, menemukan diri mereka kembali ke tempat asal mereka.

Tom menoleh ke pemuda sebelahnya, yang memprotes sudah ketiga kalinya timeloop ini terjadi.

Alia melangkah keluar dan waktu terulang, padahal ujian sudah selesai. Artinya, tidak ada satupun dari mereka yang bisa keluar, atau waktu akan terulang.

“Gue gamau ujian lagi!” teriak salah seorang siswi.

“Eh, tapi bisa kita perbaiki lagi, kan?” balas seorang siswa.

“Tapi tetep aja, kalau nggak ngerti, kan tetep nggak ngerti! “ seru siswi tadi.

Kelas itu kembali dipenuhi suara frustasi dan kekesalan.

“Hei, Alia, tanggung jawab!” seru salah seorang siswa.

“Ini bukan salah Alia, kan? Tadi kalian tidak punya solusi lain, kan!?” balas siswi yang duduk disamping Alia.

“Ya, kita kan bisa menunggu sampai ada yang masuk ke ruangan ini!?”

“Lalu kenapa nggak kau katakan tadi!?”

“Sudah, Tia, sudahlah.” Alia menggenggam erat tangan siswi yang ada disampingnya.

“Tapi, Alia, ini bukan salahmu!” ujar Tia lirih. Alia bisa merasakan tangan Tia gemetar hebat ketika memegangnya. Panik, kesal, dan takut menjadi satu. Mata Tia pun mulai berkaca-kaca. Alia menariknya dan memeluknya.

“Alia…”

“Kita akan keluar dari sini, aku janji, Tia.”

“Uuuuu…” Alia bisa mendengar teman terbaiknya itu terisak di pelukannya.

“Gahh, dasar. Kalau begini, kita jadi harus ujian lagi…”

“Apa gunanya ujian lagi kalau kita sama sekali nggak bisa mengerjakannya!?” seru salah seorang siswa.

“Lalu kenapa lu nggak belajar!? Bukannya itu tugas kita sebagai siswa!?” seru seorang siswi lainnya.

“Ngapain belajar kalau yang dipelajari nggak keluar di ujian!?”

“Buktinya, di soal tadi, yang keluar materi yang baru tiga minggu terakhir diajari, kan!?”

“Ada apa ini?”

Tanpa mereka sadari, pintu ruangan kelas sudah terbuka dan sang guru sudah berada di ambangnya. Para siswa melihat sang guru dengan tatapan putus asa.

“Kok kalian seperti yang kehilangan harapan? Tenang aja, ujiannya nggak sesusah itu…”

Para siswa saling pandang, beberapa di antaranya menggeleng lemah, kemudian duduk di tempatnya masing-masing.

“Baik, kita mulai ujiannya dari… sekarang.”



Yang mereka lakukan tak lain hanyalah apa yang telah mereka lakukan tiga kali sebelumnya, diulang ke detil terkecil.

Mereka yang sanggup mengerjakan ujian itu, bosan.

Mereka yang tak sanggup, frustasi.

Hingga 100 menit akhirnya berlalu, sang guru mengumpulkan kertas ujian dan meninggalkan kelas.

Seisi kelas terdiam. Tidak ada satupun yang beranjak dari kursinya ataupun bersuara selama 5 menit penuh.

Pada menit keenam, Tom berdiri dari bangkunya.

“Oi,mau kemana?” tanya siswa di sebelahnya.

“Aku ingin bicara dengan ketua kelas.”

“…baiklah.” Siswa tersebut memalingkan wajahnya, kemudian menyandarkan kepalanya diatas buku yang ada di meja didepannya. Tom segera berjalan kedepan bangku tempat sang ketua kelas duduk.

“Ya, menurutmu apa yang terjadi?”

“…aku nggak tahu.” Jawab Alia singkat. “Jujur aja, kurasa nggak ada orang normal yang tahu apa yang terjadi sekarang ini. Bukannya yang sering baca buku fiksi ilmiah aneh kamu?”

“Ah, yah… gue pernah baca beberapa buku tentang ini, tapi nggak kayak gini keadaannya. Biasanya cuma satu atau dua orang saja yang terpengaruh, nggak seluruh kelas juga. Kalau cuma satu-dua orang, mungkin bisa diketahui penyebabnya, tapi kalau seluruh kelas… gue nggak yakin.”

“Gue nggak mau ujian lagi…” ujar salah satu siswi pelan.

“Bukan lo doang yang nggak mau ngerjain lagi. Gue juga, dan gue yakin disini ga cuman gue dan lo yang nggak mau.”

“Kenapa kalian nggak mau ngerjain lagi?” tanya Tom.

“Kita bukan lu, Tom. Otak kita nggak nyampe situ.” Jawab siswa barusan.

“Kalau gitu, sekarang ada waktu belajar, kan? Kenapa nggak belajar aja? Kalau kita mengulang waktu lagi, lo punya kesempatan lebih, kan?”

“Tapi!...Ugh…”

“Mungkin begitu… Diantara kalian disini, siapa saja yang tidak mengerti materi dari ujian yang baru saja dilaksanakan?” tanya Alia seraya berdiri dari tempat duduknya. Tidak ada yang mengacungkan tangan selama beberapa detik. Kemudian, seorang mengacungkan tangan, lalu dua orang, tiga orang, empat orang, hingga akhirnya, delapan belas orang mengacungkan tangan.

“Hampir setengah kelas, ya…” gumam Alia setelah menghitung.

“Baiklah, kenapa kita tidak belajar saja mulai sekarang?” ajak Tom. Ia melangkah ke bangkunya untuk mengambil buku pelajaran, kemudian…

WHUSH!

Waktu kembali berputar.

“TIDAAAAAAAAAKKKKKKK!!!!” salah seorang siswi berteriak. Teman-temannya segera memeluknya dan menenangkan dia.

“Tom! Kau ingat tadi berapa lama?” tanya Alia.

“Kira-kira setengah jam setelah ujian selesai.”

“Berarti setengah jam sebelum dan setelah ujian… Teman-teman, kita punya 30 menit sebelum dan setelah ujian. Mereka yang tidak bisa mengerjakan, kami yang bisa mengerjakan akan mengajarimu dalam waktu itu. Baca kembali soal ujian kalian, dan terus perbaiki.”

“Tapi, Alia…” seorang siswa yang sebelumnya mengacung mencoba membalas, tetapi kemudian Tom menyelanya.

“Saat ini, mungkin itu yang terbaik yang bisa kita lakukan. Mungkin setelah kita semua melakukan ujian ini dengan baik, kita akan keluar dari sini.”

“Apa kau bisa menjaminnya?!” tanya seorang siswa lain.

“Tidak, tapi apa ada jalan lain yang mungkin?”

“Kenapa kau tidak memberikan saja jawabannya pada kami? Dengan begitu, nilai kami jelas akan aman, kan?”

“Dalam ulangan, yang diuji adalah diri kalian sendiri, aku tidak bisa memberi jawaban apapun, tapi aku bisa membantu kalian mencapainya. Begitu juga dengan teman-teman yang mengerti. Mereka akan bisa membantu kalian yang belum bisa mencapai tujuan kita ke sekolah, belajar!”

Tidak ada yang membalas jawaban Tom.

“Baik, dalam 20 menit, kita akan membahas soal pertama. Perhatikanlah.”

Tom membahas teori dasar dari soal pertama selama 20 menit, dibantu Alia.

“Baiklah, sebentar lagi guru kita masuk, ingat baik-baik dasar dari soal ini. Kuncinya ada di teorema ini.”

Tak lama kemudian, guru mereka masuk dan membagikan kertas ujian. Tanpa suara, mereka mengerjakannya.

…100 menit berlalu, sang guru keluar kelas.

“Baiklah, dari pengerjaan tadi, adakah yang tidak bisa kalian lakukan dari soal pertama?”

“Anu, aku tidak mengerti di bagian ini…”

Pertanyaan demi pertanyaan mengalir, hingga akhirnya waktu terulang lagi. Kini, mereka membahas soal nomor dua.

Terus begitu, dari pengulangan kelima dimana mereka membahas soal nomor dua, keenam, hingga pengulangan kedelapan dimana mereka membahas soal kelima.

Kini tibalah pengulangan kesembilan. Walaupun tubuh mereka tidak lelah karena waktu terulang terus dan mengembalikan keadaan tubuh mereka ke keadaan segar, namun jelas terlihat di wajah para siswa kalau mental mereka hampir hancur.

“Kuharap ini berhasil.” bisik Alia pada Tom.

“Kuharap juga begitu. Good luck.”

“Terimakasih, Tom.” Alia tersenyum, kemudian kembali ke tempat duduknya tepat setelah guru membuka pintu.

Dan dimulailah ujian kesepuluh mereka.

Ujian itu berlangsung seperti sebelumnya, tanpa suara, selain goresan pena pada kertas.

10 menit berlalu… 20 menit berlalu… 30 menit berlalu…

9 kali mengerjakan dari pengulangan-pengulangan sebelumnya, mereka menjadi terbiasa dengan soal-soal ini, dan karena itu, waktu terasa berjalan lebih lambat bagi mereka, dan setelah 100 menit yang amat lama, bel berbunyi dan kertas ujian dikumpulkan.

“Bu guru.” panggil Alia.

“Ya, Alia?”

“Kira-kira, kapan nilai akan ditampilkan?”

“Seminggu lagi. Nanti akan ibu sampaikan.”

“Baik, terimakasih, bu.”

Sang guru kemudian meninggalkan kelas.

Semua soal telah selesai dibahas, semua yang tidak sanggup mengerjakan telah dibantu. Yang Tom ketahui, dari salah satu buku yang ia baca, ada kejadian dimana timeloop terjadi karena ada seseorang yang menyesal akan keputusan yang dibuatnya, sehingga waktu terulang, tapi karena orang tersebut tetap menyesal, maka waktu terulang hingga seseorang berhasil memecahkan masalahnya.

Ia berharap ini jalan keluarnya. Tentu bukan hanya dirinya, semua siswa kelas ini berharap begitu.

5 menit menuju waktu reset.

Waktu terasa berjalan amat lambat. Apakah ini akan berakhir? Apakah waktu akan terulang lagi?

1 menit menuju waktu reset.

Kesunyian mengisi kelas. Alia bahkan dapat mendengarkan detak jantungnya sendiri. Tidak ada suara apapun dari dalam maupun luar kelas, seakan kelas ini terpisah sepenuhnya dari dunia luar, baik dalam ruang maupun waktu.
5…4…3…2…1

Semua menahan nafas.

0.






“Jamnya…tidak kembali.” Ujar salah satu siswa.

“…” “…” “…”

“WUUUUUUUUHUUUUU!!!!!!!!!!!!!”

Seisi kelas bersorak gembira dan bernafas lega. Pemandangan didepan mata mereka tidak kembali ke masa sebelum ujian.
Tia memeluk erat-erat Alia, yang tersenyum penuh kelegaan. Sang ketua kelas memandang ke arah Tom, yang juga tampak lega.

Suasana hiruk pikuk tak terhindarkan dalam kelas yang baru saja melewati ujian terlama mereka.



“Untung saja kita bisa kembali.” Alia berkata seraya menelusuri jalan menuju rumahnya.

“Aku setuju… Bayangkan kalau setelah yang terakhir, waktu terulang lagi.” Balas Tom.

“Uh, sebaiknya tidak kubayangkan… Baiklah, aku berhenti disini. Salam untuk ibumu, ya.”

“Kuharap hal tadi tidak terjadi lagi…”

“Aku juga berharap begitu. Tapi, darimana kau menebak kalau waktu tidak akan terulang lagi setelah kita mengerjakan
ujiannya dengan lancar? Dari buku yang kaubaca?”

“Begitulah… Ya sudah, sampai jumpa besok.”

“Hei, Tom, menurutmu… berapa banyak dari teman kita yang masih sanggup ke sekolah besok?”

“Entahlah, mungkin ada diantara mereka yang akan sangat takut untuk masuk kedalam kelas. Kau sendiri?”

“Aku yakin kau akan ada disana.” Jawab Alia seraya tersenyum manis.

“…”

“Sampai jumpa besok, Tom.”

“Yeah, sampai jumpa besok.”

Itupun, kalau ‘besok’ bisa kita temui.


The End.